Wisata Yogyakarta

Wisata Yogyakarta

Guo Kiskendo

Gua yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Guo Kiskendo ini menurut kisah ditemukan oleh seorang pertapa  yang bernama Ki Gondorio pada tahun 1700-an. Sang pertapa  ini sekaligus berperan sebagai juru kunci gua yang pertama. Menurut cerita ini, pada suatu malam ia bermimpi memasuki sebuah gua yang menyerupai  kerajaan. Di dalam mimpinya, Ki Gondorio mendapat petunjuk agar menamai  15  ruangan di dalam gua itu. Setelah terbangun dari  tidurnya, Ki Gondorio mengikuti segala petunjuk  yang diterimanya dalam mimpi.

Kendati ada kisah seperti itu, masyarakat yang  tinggal di sekitar Gua Kiskendo mempunyai berbagai versi cerita. Ada yang bilang bahwa keberadaan gua ini muncul dari dunia pewayangan. Versi ini mengisahkan bahwa dahulu kala Gua Kiskendo merupakan sebuah kerajaan yang  dipimpin oleh seorang raja yang bernama Mahesosuro. Ada juga yang mengatakan bahwa gua ini merupakan duplikat dari sebuah gua  yang terdapat di India.

Hingga kini, masyarakat setempat masih menganggap  Gua Kiskendo sebagai tempat yang  keramat. Hal ini berkaitan dengan mitos atau legenda yang melatarbelakanginya, maupun tempat – tempat  yang terdapat di dalam gua yang sering digunakan untuk tirakatan atau bertapa. Anggapan keramat bagi Gua Kiskendo juga berhubungan dengan adanya  pantangan-pantangan bagi siapa saja yang ingin masuk ke dalamnya. Pantangan tersebut antara lain tidak boleh membuang kotoran  di  dalam gua, tidak boleh menghina atau merusak keadaan gua, dan tidak boleh berbuat hal-hal di luar batas kesopanan.

Wisatawan  dapat  menilik alur cerita tentang Gua Kiskendo yang dipautkan dengan  kisah  pewayangan (epos Ramayana) yang diukir pada dua relief di depan  mulut gua.

Gua Kiskendo  berupa satu komplek objek  wisata yang terdiri dari beberapa tempat yang  konon menurut cerita masih berhubungan  dengan legenda yang  melatarbelakangi gua tersebut, yakni Kerajaan Kiskendo. Di kawasan ini terdapat  15 ruang, yaitu: 

Lidah Mahesosuro, yaitu berupa batu yang mempunyai lidah. Konon, batu ini  berasal dari lidah Raja Mahesosuro yang dipotong oleh Subali untuk mencegah  agar Mahesosuro tidak dapat hidup kembali. 
Pertapaan ledek, yaitu tempat yang digunakan untuk bertapa agar sukses dalam berkesenian. 
Pertapaan Santri Tani, yaitu tempat yang digunakan untuk bertapa agar hasil  pertanian dapat melimpah. Dahulu, tempat ini pernah digunakan sebagai tempat tinggal para petani yang hidup di daerah  sekitar gua. 
Pertapaan Subali, yaitu tempat Subali bertapa sebelum bertempur melawan Mahesosuro dan Lembusuro (manusia berkepala lembu). 
Sumelong, yaitu sebuah lubang yang dapat menembus ke atas. Menurut mitos,  lubang yang terletak di tengah gua ini ialah tempat Subali keluar  dari gua karena mulut gua ditutup oleh Sugriwo.
Lumbung Kampek, yaitu tempat penyimpanan barang-barang berharga dari Kerajaan Gua Kiskendo. 
Selumbung, yakni lumbung makanan Kerajaan Gua Kiskendo. 
Gua Seterbang, ialah gua yang masih satu bagian dari Gua Kiskendo. Konon, gua  ini terhubung dengan laut selatan. 
Keraton Sekandang, yaitu pusat Kerajaan Gua Kiskendo. Di tempat inilah Subali bertempur melawan Mahesosuro dan Lembusuro.
Pertapaan Kusuman, merupakan tempat bertapa untuk memperoleh derajat yang tinggi.
Padasan, ialah sumber air pada masa kejayaan Kerajaan Gua Kiskendo.
Sepranji, berfungsi sebagai pusat peternakan pada jaman Kerajaan Gua Kiskendo.
Babat Kandel, berupa batuan-batuan yang mirip dengan usus perut manusia.  Menurut cerita, babat ini merupakan isi perut Mahesosuro  yang dibuang oleh Subali.
Sawahan, yaitu tempat menanam  padi.
Selangsur, yaitu tempat serdadu Kerajaan Gua Kiskendo bertempur melawan Subali.
Di samping  kelimabelas tempat tersebut, terdapat objek-objek  lainnya yang berdekatan  dengan komplek Gua Kiskendo,  yakni Gua Sumitro (sekitar 50  meter),  Grojogan Sewu (air terjun dengan ketinggian 20 meter), Watu Blencong  (berada kira-kira 250 m di atas Gua Kiskendo), Gunung  Krengseng, Watu Gajah, dan Gunung Kelir (gunung batu kapur yang berbentuk menyerupai  layar, berjarak 4,5 km dari Gua Kiskendo).

 
Gua yang berada di  kawasan pegunungan Menoreh ini masuk ke dalam wilayah administratif Dusun Sukamaya, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya, gua ini berada di sebelah  barat laut  Kota Wates, ibu kota Kabupaten Kulon Progo, dan kira-kira terletak pada  ketinggian 800 meter dpl.

Untuk mencapai  lokasi wisata gua yang berjarak sekitar 35  Km dari kota  Yogyakarta ini, wisatawan dapat menggunakan  bus antar kabupaten dari Terminal Pusat Giwangan Yogyakarta. Dari terminal ini, wisatawan disarankan memilih bus jalur Yogyakarta—Sentolo atau Yogyakarta – Wates dengan tarif Rp 10.000  (Februari  2008). Biasanya, bus-bus yang beroperasi di jalur tersebut berwarna gelap dan  berukuran lebih kecil dibanding bus  kota.

Dari Terminal  Giwangan, perjalanan darat yang harus ditempuh sekitar 40 menit. Jangan lupa  untuk berpesan pada sang kondektur agar  berhenti di pertigaan Ngeplang.  Dari pertigaan ini, wisatawan harus berganti  bus dan mengambil bus jurusan Samigaluh atau Nanggulan. Menggunakan bus ini  dibutuhkan Rp 15.000 dan wisatawan akan sampai ke  objek wisata Guo Kiskendo setelah 50  menit perjalanan.

Di kawasan wisata  gua ini, tersedia toilet (kamar  kecil), tempat beristirahat (berupa  pendopo), dan arena parkir yang luas (untuk bus, mobil, dan sepeda  motor).

Pantai Sundak

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, nama Pantai Sundak mulai digunakan setelah di pantai ini terjadi pertarungan antara seekor anjing dan landak. Pertarungan terjadi karena seekor anjing yang sedang kelaparan secara kebetulan berjumpa seekor landak. Si landak kemudian dikejar dan akhirnya menjadi mangsa anjing kelaparan tadi. Atas peristiwa itu, sang pemilik anjing sering menyebut-nyebut pantai ini sebagai sundak. Yang mana sundak merupakan paduan dari ‘asu‘ [anjing dalam bahasa Jawa] dan ‘landak‘ [hewan berkulit duri].

Sejak dinamakan sundak, pantai ini mulai terdengar gaungnya. Kini, obyek wisata alam ini cukup digemari para wisatawan domestik dan mancanegara. Karena itu, Pantai Sundak menjadi lokasi wisata alam andalan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kendati menjadi obyek andalan pemerintah daerah setempat, pantai yang lingkungannya cukup bersih dan terawat dengan baik ini masih dikelola oleh warga sekitar.

Wisatawan tak akan pernah ingkar untuk mengatakan bahwa Pantai Sundak dan lingkungannya memang menakjubkan. Pantainya sendiri, menampilkan pasir putih yang resik dan air laut yang jernih. Belum lagi ketika pengunjung mencoba untuk berjalan dari bibir pantai ke tengah laut yang relatif dangkal hingga sejauh 30 meter. Di sana, terdapat batu-batu karang kecil berjajar dan menjadi persembunyian biota-biota laut yang mungil.

Tampak beberapa bukit batu karang dan batu kapur di utara pantai dengan tinggi sekitar 12 meter. Bukit-bukit ini melatari pantai dan menambah keelokan pesona alam kawasan Pantai Sundak. Di dalam salah satu bukit batu karang tersebut terdapat gua, yang di dalamnya ada sumur air tawar yang menjadi sumber mata air penduduk sekitar.

Daya tarik lain di pantai ini ialah pohon-pohon yang membuat sejuk hembusan angin laut di sekitar pantai. Di sore hari, dari bawah pepohonan ini, wisatawan dapat menikmati cantiknya matahari terbenam di ufuk Samudra Hindia.

Pantai Sundak berada dalam satu area dengan sebagian obyek wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul. Jadi, wisatawan yang ingin mencari suasana pantai yang berbeda dapat beranjak menuju lokasi lainnya. Beberapa pantai lain yang letaknya berdekatan dengan Pantai Sundak ialah: Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Kukup, Pantai Drini, dan Pantai Sepanjang.

Secara administratif, Pantai Sundak masuk di wilayah Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari Yogyakarta menuju ibu kota Kabupaten Gunungkidul, Wonosari, wisatawan dapat naik bus yang berangkat dari Terminal Giwangan Yogyakarta. Wisatawan dapat memilih mini bus atau bus besar dengan tarif rata-rata Rp 4.000 [Mei 2008]. Perjalanan menelan waktu sekitar 1 jam. Sesampainya di Kota Wonosari, biasanya penumpang bus akan diturunkan di sekitar Pasar Wonosari atau daerah pertokoan di sana. Kemudian, carilah bus kecil yang menuju Pantai Baron atau Krakal. Dengan menumpangi bus kecil tersebut, memakan waktu antara 40 menit—1 jam dengan ongkos Rp 2.500 [Mei 2008].

Bila wisatawan berangkat dari pusat Kota Yogyakarta langsung menuju pantai dengan kendaraan roda dua, perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam.

Ketika memasuki kawasan obyek wisata pantai di Gunungkidul, wisatawan harus membayar Rp 1.500 per orang terlebih dulu di pos retribusi yang berada di jalan utama menuju lokasi. Sedangkan tatkala mengunjungi Pantai Sundak, wisatawan tidak dikenai biaya apapun, kecuali Rp 1.000 [Mei 2008] untuk parkir kendaraan.

Karena Pantai Sundak masih belia sebagai obyek wisata, penginapan memang tidak akan pengunjung temukan di kawasan pantai tersebut. Tetapi, di beberapa pantai di sebelah barat Pantai Sundak, yakni Pantai Kukup, Pantai Krakal, atau Pantai Baron, wisatawan dapat menemukannya dengan mudah. Di beberapa pantai ini, terdapat penginapan-penginapan sederhana. Harga sewa kamar per malamnya pun juga relatif murah, yakni berkisar antara Rp 20.000—Rp 50.000 [Mei 2008]. Selain itu, pengunjung pun dapat menyewa homestay di sekitar kawasan ini.

Selain itu, terdapat pula kedai-kedai untuk makan bagi para wisatawan. Di tempat-tempat ini, cita rasa makanan yang disajikan di daerah pantai ialah cita rasa berbagai masakan ikan. Warung-warung kecil yang berjajar di tepi pantai ini menawarkan masakan hasil laut nelayan setempat kepada pengunjung. Selain itu, kawasan ini juga menyediakan fasilitas lain, seperti kamar mandi dan mushola.

Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis adalah salah satu pantai yang sangat terkenal di provinsi DIY, terletak di Kabupaten Bantul. Pantai ini memiliki pemandangan yang indah, meskipun ombak disana ada kalanya cukup besar. Angin yang bertiup kencang pada musim-musim tertentu membuat pantai Parangtritis cocok sebagai tempat pelaksanaan festival layang-layang. Di pantai ini terdapat banyak bukit pasir yang disebut “gumuk” oleh masyarakat sekitar. Oleh tiupan angin, permukaan pasir di bukit-bukit ini membentuk ‘lukisan alam‘ yang indah. Pada musim hujan, di beberapa cekungan di antara bukit-bukit pasir ini seringkali terbentuk danau semacam oase.

Pantai Parangtritis juga memiliki kaitan mistis dengan Keraton Yogyakarta, yaitu sebagai tempat pelaksanaan upacara “labuhan” di Parangkusumo. Labuhan adalah upacara persembahan kepada Nyai Lorokidul, yang dipercaya sebagai penguasa Laut Selatan.

Pantai Parangtritis memiliki keindahan alam yang merupakan perpaduan antara laut dan bukit-bukit pasir.

Pantai Parangtritis terdapat di tepi Samudera Indonesia, berjarak sekitar 30 km dari kota Yogyakarta.

Pantai Parangtritis bisa dicapai dari Yogyakarta dengan bis umum ataupun kendaraan pribadi.

Harga tiket masuk ke Pantai Parangtritis adalah sebesar Rp. 2.000,-

Di pantai Parangtritis terdapat banyak kios penjual makanan dan barang-barang kerajinan, penginapan, dan juga ‘dokar‘ yang disewakan kepada pengunjung untuk menyusuri sepanjang pantai.
Pantai Glagah

Pantai Glagah merupakan kawasan pantai yang memiliki potensi wisata besar karena keindahan alaminya. Pantai yang pasirnya hitam kecoklatan ini, memiliki dataran yang landai tanpa karang, sehingga pengunjung akan dimanjakan dengan panorama air laut sejauh mata memandang. Pantai ini berjarak sekitar 40 km dari Kota Yogyakarta, atau 15 km dari Wates, Ibu kota Kabupaten Kulon Progo.

Di Pantai Glagah, pengunjung dapat menikmati tiga objek wisata sekaligus dalam satu pantai. Pertama, adalah objek yang terletak dekat dengan loket retribusi. Objek yang diberi nama Dermaga Wisata ini, dalam beberapa tahun ke depan akan dijadikan pelabuhan. Di sini terdapat sebuah gardu pandang, yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk menikmati keindahan alam sekitarnya.

Objek Kedua adalah laguna yang letaknya beberapa ratus meter ke arah barat dari Dermaga Air. Laguna ini membagi sebagian kawasan Pantai Glagah menjadi dua bagian, yakni bagian yang masih ditumbuhi oleh beberapa tumbuhan pantai dan rerumputan, dan bagian gundukan pasir yang berbatasan langsung dengan lautan.

Objek ketiga merupakan kawasan pemancingan. Kondisi Pantai Glagah yang landai, menyebabkan pantai ini berlimpah dengan hasil laut. Di kawasan pemancingan ini, pengunjung dapat bergabung dengan warga sekitar untuk memancing ikan. Bahkan, tak jarang warga sekitar mau membantu pengunjung untuk memancing.

Di Pantai Glagah, hal yang paling menarik adalah keberadaan laguna yang dapat digunakan untuk beragam wisata air. Menjadi menarik, karena jarang dimiliki oleh pantai-pantai lain di kawasan Indonesia. Terbentuknya laguna ini dikarenakan adanya gelombang pasang besar yang menyebabkan air laut terjebak di cekungan pasir pantai, sehingga membentuk genangan yang menyerupai danau.

Pengunjung dapat mengelilingi laguna ini dengan menaiki perahu motor yang banyak ditawarkan di lokasi tersebut. Selain berperahu, di laguna ini, pengunjung juga dapat melakukan olahraga air, seperti berenang ataupun mendayung. Jika ingin mendayung, pengunjung dapat berjalan sedikit ke arah barat, menuju lokasi sebuah argowisata yang dikelola oleh lembaga nonpemerintah. Argowisata ini, menyewakan perahu dayung (kano), gethek, dan juga bebek dayung untuk para pengunjung.

Selain wisata air, pengunjung juga dapat memasuki perkebunan yang dimiiki oleh argowisata tersebut. Lahan perkebunan ini digunakan untuk membudidayakan buah naga dan bunga roselle. Di Yogyakarta, Pantai Glagah menjadi satu-satunya kawasan pantai yang mengembangkan budi daya buah naga.

Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta, Indonesia.

Untuk mengunjungi pantai ini, Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaran umum. Jika ingin menggunakan kendaraan umum, dari terminal Giwangan Yogyakarta, Anda dapat menumpang bus jurusan Jogja-Wates, membayar Rp 5.000,00 sampai ke terminal Kota Wates. Dari terminal Kota Wates, Anda dapat melanjutkan perjalanan menggunakan bis jurusan Pantai Glagah-Congot-Trisik dengan biaya Rp 5.000,00 per orang (Oktober 2008).

Untuk masuk ke kawasan Pantai Glagah, pengunjung akan dikenakan biaya retribusi Rp 1.500,00 per orang. Selain itu, pengunjung juga akan dikenakan dua macam biaya parkir, di loket retribusi dan di lokasi tempat parkir. Di loket retribusi, pengunjung yang menggunakan motor akan dikenakan Rp 1.000,00 dan bagi pengguna mobil akan dikenakan biaya Rp 1.500,00. Sementara itu, di lokasi parkir, motor akan dikenakan biaya Rp 1.000,00 dan mobil Rp 5.000,00 (Oktober 2008).

Jika ingin menikmati permainan air, pengunjung akan dikenakan biaya, bergantung fasilitas apa yang ingin digunakan. Untuk mengelilingi kawasan laguna dengan perahu selama 30 menit, pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp 3.000,00. Jika ingin menggunakan kano, pengunjung dapat menyewanya dengan membayar Rp 20.0000,00 per jam.

Pantai Glagah juga memiliki sebuah panggung terbuka, yang biasanya digunakan untuk mengadakan pentas seni, budaya, dan beragam hiburan lainnya. Pentas di panggung terbuka ini tidak diadakan setiap hari. Melainkan pada hari-hari tertentu saja, seperti saat libur lebaran ataupun malam tahun baru.

Merasa lelah dan lapar usai bermain di sekitar pantai, pengunjung dapat beristirahat di salah satu warung yang banyak terdapat di sekitar Pantai Glagah, seraya menikmati beragam masakan laut hasil olahan penduduk setempat. Selain itu, jika ingin menginap, para pengunjung dapat menyewa penginapan yang banyak terdapat di sekitar pantai, dengan harga dan fasilitas yang beragam.

Gua Jomblang

Gua Jomblang merupakan satu dari sekitar 500 gua yang terdapat di kawasan pegunungan karst Gunung Kidul. Gua Jomblang merupakan gua vertikal yang jarak antara bibir gua dengan dasarnya beragam, jarak paling jauh sekitar 80 m. Oleh karena itu, untuk memasukinya dibutuhkan kemampuan melakukan Single Rope Technique (SRT). SRT sendiri merupakan teknik yang digunakan untuk menelusuri gua vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan-medan vertikal.
Untuk masuk ke dasar Gua Jomblang, penjelajah alam dapat memilih salah satu dari empat jalur yang biasa dilewati. Jalur pertama merupakan yang termudah dan sering disebut sebagai jalur ‘VIP‘. Di jalur VIP, 15 m pertama merupakan lintasan terjal yang masih bisa ditapaki dengan kaki. Namun, karena lintasan tersebut cukup terjal, maka peralatan SRT lengkap tetap harus digunakan untuk menjamin keselamatan. Sisa jarak dengan dasar gua, ditempuh dengan SRT, meluncur ke bawah dengan tali sejauh kurang lebih 20 meter. Sementara itu, ketiga jalur lainnya lebih sulit dibanding jalur VIP ini. Hal ini dikarenakan penjelajah harus menggunakan SRT sejak ketinggian 80 m (jalur A), 60 m (jalur B), dan 40 m (jalur C). Bagi penjelajah yang baru pertama kali memasuki gua vertikal, sangat disarankan untuk menggunakan jalur VIP terlebih dahulu. Namun, bagi mereka yang sudah sering memasuki gua vertikal, ketinggian lintasan gua vertikal merupakan tantangan tersendiri, meski tetap harus memikirkan faktor keselamatan.
Lintasan VIP, lintasan termudah yang biasa digunakan para penjelajah
Gua yang berdiameter sekitar 50 m ini, pertama kali dijelajahi pada tahun 1984 oleh Acintyacunyata Speleological Club (ASC), kelompok penjelajah gua dari Kota Yogyakarta. Gua ini, memiliki sejarah yang cukup kelam. Di era 1970—1980an, gua ini dijadikan lokasi pembunuhan massal anggota PKI. Diperkirakan, ratusan anggota PKI telah menemui ajalnya di gua ini. Mereka, secara berkelompok, dijejerkan di bibir gua dengan tangan yang terikat satu sama lain. Sehingga, ketika salah satu ditembak hingga jatuh ke dalam gua, anggota lainnya akan terikut jatuh pula. Cerita kelam gua ini, sempat membuat takut masyarakat setempat. Berbagai cerita angker pun turut menyertainya, di antaranya cerita tentang penjelajah yang hilang di gua ini. Pada tahun 1990-an, masyarakat sekitar Gua Jomblang menggelar doa bersama di gua tersebut. Sejak saat itu, tidak ada lagi penjelajah gua yang hilang ditelan gelapnya Gua Jomblang.

Jalur yang harus dilalui untuk mencapai dasar Gua Jomblang memang melelahkan. Terutama bagi yang belum terbiasa memasuki gua vertikal. Belum lagi cerita-cerita seram seputar Gua Jomblang dari para penjelajah yang pernah masuk, mungkin akan membuat penjelajah merasa gentar sebelum memasuki gua. Namun, begitu masuk ke dalamnya segala kelelahan dan ketakutan akan terganti oleh rasa kagum akan keindahan Gua Jomblang.

Di dasar gua, beberapa pohon tumbuh merimbun, sedangkan pada bagian dinding kapurnya ditumbuhi oleh tanaman perdu. Sampai di dasar ini, penjelajah dapat beristirahat sebentar di sebuah bilik hasil bentukan alam. Seusai beristirahat, penjelajah dapat meneruskan perjalanan dengan menelusuri lorong yang menghubungkan Gua Jomblang dengan gua vertikal lainnya yang bernama Grubug. Lorong ini cukup lebar dengan panjang sekitar 500 m. Menelusuri lorong ini tidaklah terlalu sulit, karena telah ada jalan setapak yang terbentuk dari bebatuan yang disusun memanjang. Namun, penjelajah tetap harus berhati-hati, karena suhu gua yang lembab menyebabkan jalan sepanjang lorong ini menjadi licin.
Di ujung lorong yang juga menjadi dasar Gua Grubug, penjelajah dapat melihat keindahan luar biasa. Dua buah stalagmit besar berwarna hijau kecoklatan berdiri tegak di tengah dasar Gua Grubug. Jika penjelajah dapat mencapai dasar Grubug pada pukul 13.00 WIB, pemandangan sinar matahari yang menerobos kegelapan abadi di dasar Gua Grubug akan begitu menakjubkan. Sinar ini menyentuh sejumlah stalaktit dan stalagmit yang terbentuk oleh  tetesan air selama ribuan tahun.
Di sisi utara stalagmit besar, terdapat aliran sungai yang berasal dari Kali Suci. Di musim kemarau, penjelajah dapat menggunakan perahu karet untuk mengikuti arus sungai yang tidak terlalu besar ini. Arus sungai ini menghubungkan dasar Gua Grubug dengan beberapa gua lainnya di sekitar pegunungan karst tersebut. Namun, jika musim hujan tiba, aliran sungai ini akan semakin deras dan juga semakin dalam. Disarankan untuk tidak mencoba berperahu pada musim hujan, sebab akan sangat berbahaya jika memaksakannya.

Gua Jomblang terletak sekitar 50 km di sebelah tenggara Kota Yogyakarta atau sekitar 10 km dari Wonosari, Ibu kota Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya di Dukuh Jetis Wetan, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta, Indonesia.

Untuk mencapai Gua Jomblang, penjelajah dapat menggunakan transportasi umum. Dari Terminal Bus Giwangan, Kota Yogyakarta, penjelajah dapat menggunakan bus jurusan Jogja-Wonosari dan membayar sekitar Rp 5.000,00 menuju ke Simpang Lima Wonosari. Dari sini, perjalanan masih dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota menuju Kecamatan Semanu, dengan membayar ongkos sekitar Rp 3.000,00 (November 2008).

Setelah tiba di Desa Semanu, disarankan kepada para penjelajah untuk menuju rumah Kepala Dukuh Jetis Wetan terlebih dulu, untuk menitipkan barang-barang yang tidak akan digunakan selama di dalam gua. Dari rumah kepala dukuh, pengunjung masih harus berjalan kaki lagi sekitar 3 km lagi untuk sampai ke bibir gua.

Penggunaan kendaraan umum menuju Gua Jomblang memang agak merepotkan. Jika ingin lebih mudah, penjelajah dapat menyewa kendaraan, baik berupa motor ataupun mobil. Perjalanan menuju Gua Jomblang dengan kendaraan sewaan ini akan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Yogyakarta. Jalan di Desa Semanu masih berbatu-batu, karena itu sangat disarankan kepada pengunjung untuk mengecek kondisi kendaraan, terutama ban, agar keselamatan lebih terjamin.

Untuk memasuki Gua Jomblang, penjelajah tidak dikenakan biaya tiket.

Rumah Kepala Dukuh Jetis Wetan, selain digunakan sebagai tempat menitip barang, biasanya juga digunakan untuk persinggahan sementara, baik sebelum masuk ke gua, maupun seusai keluar dari gua. Terkadang, Kepala Dukuh beserta istrinya akan menyediakan air putih atau teh hangat kepada para penjelajah. Selain itu, di sini pun para penjelajah dapat menggunakan kamar mandi milik kepala dukuh, untuk membersihkan lumpur-lumpur yang melekat di tubuh selama penjelajahan ke dalam gua. Atas kesedian kepala dukuh yang mau membuka rumahnya ini, biasanya para penjelajah memberikan uang seikhlasnya.
Untuk masuk ke dasar Gua Jomblang, bukanlah hal yang mudah dicapai oleh wisatawan umum. Untuk menikmati keindahan serta misteri gua ini, penjelajah yang masih awam dengan medan gua vertikal, disarankan untuk menggunakan pemandu yang berpengalaman. Selain itu, penjelajah juga diharuskan untuk memiliki peralatan lengkap, karena keselamatan akan menjadi taruhannya. Bagi penjelajah yang tidak memilikinya, dapat menghubungi kelompok-kelompok jelajah gua yang memiliki peralatan keselamatan standard internasional, yang biasanya juga mau menjadi pemandu. Salah satunya adalah Acintyacunyata Speleological Club (ASC) yang terletak di Jalan Kusumanegara 278,

Kota Yogyakarta.
Masyarakat di Yogyakarta dan Jawa Tengah pasti mengenal dengan baik keindahan dan keganasan Gunung Merapi. Dengan predikat sebagai salah satu gunung teraktif di dunia, Merapi menyimpan potensi bencana alam berupa letusan atau erupsi. Sudah sejak lama para peneliti geologi mengajukan berbagai macam teori mengenai keganasan letusan Merapi. Salah satunya yang terkenal datang dari ahli geologi Belanda, Reinout Willem van Bemmelen, yang mengajukan asumsi bahwa Gunung Merapi pernah meletus hebat pada 1006. Letusan hebat ini, oleh para ahli arkeologi kemudian ditafsirkan sebagai penyebab bagi pusat-pusat kerajaan Mataram Kuna mengalami kemunduran dan kemudian berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur

Setelah awal Millenium kedua, Merapi pernah meletus beberapa kali, di antaranya tahun 1672, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Pada letusan tahun 1672, awan panas dan banjir lahar menewaskan sekitar 300 jiwa. Sementara, letusan tahun 1930 menelan korban lebih banyak lagi, yakni sekitar 1.369 orang. Kemudian pada tahun-tahun selanjutnya, yaitu erupsi 1954, 1961, 1969, dan 1972-1973, memakan korban jiwa masing-masing puluhan orang
Erupsi lainnya terjadi pada 1994 yang menewaskan puluhan orang, sementara erupsi tahun 1998 tidak menimbulkan korban jiwa, karena letusannya mengarah ke atas

Pada Millenium ketiga, Merapi sekali lagi menunjukkan keganasannya. Kali ini terjadi pada tahun 14 Juni 2006, di mana terjangan lava dan awan panas mampu merobohkan dinding penghalang bagian Selatan yang biasa disebut geger boyo (punggung buaya), sehingga material panas tersebut kemudian menimbun bumi perkemahan Kaliadem. Erupsi yang hanya berselang 2 minggu sebelum Gempa Bumi melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut telah menewaskan dua relawan evakuasi masyarakat lereng Merapi, yakni Sudarwanto dan Suwarjono. Mereka terjebak di dalam lubang persembunyian (bungker) ketika lahar panas menimbun bungker setinggi sekitar tiga meter

Kaliadem merupakan jangkauan terjauh dari terjangan lahar dan awan panas (dalam bahasa setempat disebut wedhus gembel) ketika erupsi tahun 2006. Desa-desa di sekitar Kaliadem, seperti Kinahrejo (tempat Mbah Maridjan, juru kunci Merapi tinggal), selamat dari bencana letusan tersebut. Ribuan kubik pasir-batu yang menimbun kawasan Kaliadem ini telah mengubah wajah Kaliadem dari bumi perkemahan yang hijau menjadi hamparan tanah gersang yang sangat luas. Kawasan yang tertimbun bekas lahar Merapi tersebut kemudian diresmikan sebagai obyek wisata dengan nama Lava Tour Kaliadem. Wisatawan domestik maupun mancanegara dapat mengunjungi obyek wisata ini untuk melihat secara langsung material bekas letusan Merapi dan bungker tempat perlindungan dua relawan yang tewas.

Kawasan kaliadem merupakan dataran tinggi di sebelah selatan Gunung Merapi. Dari kawasan ini, wisatawan dapat menyaksikan puncak Merapi yang menjulang tinggi dengan jarak pandang sekitar 2 kilometer. Pesona keagungan gunung setinggi 2.965 meter di atas permukaan laut (dpl) ini dihiasi oleh asap sulfatara yang tak pernah berhenti mengepul dari mulut kawahnya, memperlihatkan bahwa gunung ini tak pernah berhenti beraktivitas.

Selain menyaksikan indahnya puncak Merapi, wisatawan yang berkunjung siang hari dapat menyaksikan bukti-bukti geologis letusan Merapi tahun 2006, yakni hamparan pasir-batu yang merupakan material letusan dan bungker bekas persembunyian dua relawan. Kawasan gersang yang hanya ditumbuhi semak dan perdu ini nampak bertolak belakang dengan vegetasi hijau pada bukit-bukit di sekitarnya. Sebelum terjadinya erupsi, Kaliadem merupakan bumi perkemahan yang dilengkapi berbagai fasilitas, seperti mushola, toilet, warung-warung permanen, gardu pandang, basecamp pendakian Merapi, serta area luas untuk perkemahan. Kini bangunan-bangunan tersebut telah tertimbun dan hanya menyisakan bagian atas bangunan berupa tembok-tembok yang telah hancur.
Bekas-bekas bangunan yang tertimbun material lahar

Bukti keganasan Merapi lainnya dapat dilihat pada bungker yang menjadi tempat persembunyian relawan. Semula, bungker ini diyakini dapat melindungi para relawan jika sewaktu-waktu Merapi menyemburkan awan panas. Namun, seperti diutarakan oleh Christian Awuy, salah seorang pemandu trekking kawasan Merapi, letusan Merapi ternyata tak hanya menyemburkan awan panas, tetapi juga material panas yang mampu merobohkan Geger Boyo (bukit di bagian selatan puncak Merapi) sehingga menimbun kawasan Kaliadem. Akibatnya, dua relawan yang bersembunyi di dalam bungker tertimbun material setinggi sekitar 3 meter, dengan panas mencapai 1.000 derajat celcius. Meskipun terbuat dari bahan beton setebal 25 cm dan pintu dari besi, karena suhu yang sangat panas tersebut, dua relawan yang berlindung di dalam bungker itu akhirnya tewas. Menutut Christian Awuy, seorang relawan ditemukan tewas berendam di dalam bak mandi, sementara seorang lainnya di depan pintu besi.

Wisatawan dapat menyaksikan bungker yang berada di kedalaman sekitar 2 meter di dalam tanah tersebut. Bungker ini kini telah dibersihkan dari material pasir dan dilapisi cat putih sehingga kontras dengan warna sekitarnya. Di depan pintu terdapat sebuah prasasti yang menerangkan secara singkat riwayat bungker ini. Memasuki bungker, hawa lembab dan pengap langsung terasa menyelimuti pengunjung seolah mewartakan aura mistis. Benar atau tidak, yang jelas menurut Christian Awuy, jika ingin memasuki bungker, sebaiknya pengunjung tidak sendirian, karena dikhawatirkan bisa terpengaruh suasana mistis tersebut.
Selain kunjungan pada siang hari, kunjungan pada malam hari juga tak kalah menarik. Pada malam hari, wisatawan dapat menyaksikan lelehan lava pijar yang menuruni kubah lava. Pemandangan lelehan lava pijar berwana merah menyala tersebut tentu saja kontras dengan pekatnya malam. Tetapi jangan lupa, jika berkunjung pada malam hari, wisatawan sebaiknya mengenakan pakaian hangat yang cukup, karena udara malam di kawasan ini sangat dingin.

Secara administratif, obyek wisata Lava Tour Kaliadem terletak di Desa Kepuharjo, Kecamatan, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta, Indonesia.

Kaliadem terletak sekitar 35 kilometer arah utara Kota Yogyakarta. Hingga saat ini, tidak ada transportasi umum yang melayani perjalanan langsung dari Yogyakarta menuju Kaliadem. Yang ada hanya bus atau mobil yang melayani rute Yogyakarta-Kaliurang. Oleh sebab itu, bagi wisatawan yang hendak mengunjungi Kaliadem maupun obyek-obyek wisata lainnya di lereng Gunung Merapi disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan. Dengan cara ini, wisatawan dapat mengunjungi tidak hanya Lava Tour Kaliadem, melainkan juga obyek-obyek wisata lainnya dengan lebih mudah.

Mengunjungi Lava Tour Kaliadem wisatawan dipungut biaya tiket sebesar Rp 5.000,00 per orang. Jika membawa kendaraan pribadi, pengunjung juga dikenai biaya tambahan untuk parkir, yakni Rp 5.000,00 untuk mobil dan Rp 3.000,00 untuk motor

Kawasan Kaliadem telah diramaikan oleh warung-warung yang menjual makanan dan minuman ringan bagi pengunjung. Tak hanya itu, jika pelancong tidak sempat menyaksikan secara langsung peristiwa lelehan lava pijar di malam hari, warung-warung di sekitar Kaliadem juga menjual foto dan video CD yang menggambarkan lelehan lava pijar serta erupsi tahun 2006. Foto dan video CD tersebut juga menyajikan gambaran proses evakuasi korban yang tertimbun material panas di dalam bungker. Foto-foto terseut dijual seharga Rp 15.000,00 hingga Rp 20.000,00 per foto. Sedangkan Video CD dijual seharga Rp 30.000,00 hingga Rp 50.000,00 per video CD
Apabila berniat menghabiskan malam di kawasan lereng Merapi, wisatawan dapat memesan penginapan di kawasan Kaliurang yang terletak di sebelah Barat Kaliadem. Di Kaliurang terdapat berbagai penginapan, baik hotel maupun losmen yang tak hanya digunakan untuk penginapan, tetapi juga pelatihan, rapat, maupun pertemuan-pertemuan keluarga karena hampir setiap hotel dan losmen memiliki ruang pertemuan. Di tempat ini juga banyak warung dan penjaja kuliner khas Kaliurang, yakni jadah dan tempe bacem, serta sate kelici yang lezat dan gurih. Di dekat Kawasan Kaliurang juga terdapat berbagai obyek wisata menarik lainnya, seperti Tlogo Putri, Taman Kaliurang, dan Gardu Pandang Merapi.

Keraton Yogyakarta
Merupakan pusat budaya Jawa di Yogyakarta yang masih eksis hingga saat ini. Keraton Yogyakarta didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I. Saat ini, raja di Keraton Yogyakarta adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pada waktu masih menjadi putra mahkota, Sultan HB X bernama Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi. Pada saat ini, Sultan HB X menjabat sebagai Gubernur DIY.

Di dalam Keraton terdapat berbagai bangunan dengan nama dan fungsinya masing-masing, pusaka-pusaka kerajaan, perpustakaan yang menyimpan naskah-naskah kuno, dan museum foto yang menyimpan puluhan foto raja-raja Yogyakarta, keluarga dan kerabatnya. Berbagai upacara tradisional masih dilaksanakan secara rutin di Keraton Yogyakarta, antara lain ‘jamasan‘ (memandikan) pusaka dan kereta kerajaan dan Grebeg Maulud. Sultan dan keluarganya tinggal di bagian dalam yang disebut Keraton Kilen.

Keraton Yogyakarta merupakan salah satu istana kerajaan yang masih berfungsi sepenuhnya di antara sekian banyak kerajaan di Indonesia. Sebagai provinsi yang memiliki keistimewaan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bisa dilepaskan darikeberadaan Keraton Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta berada di pusat kota Yogyakarta, dengan halaman depan adalah Alun-alun Utara dan halaman belakang adalah Alun-alun Selatan.

Keraton Yogyakarta bisa dicapai dengan kendaraan apa saja.

Tiket masuk ke bagian depan Keraton, yaitu Pagelaran, Siti Hinggil, dan sekitarnya adalah Rp. 5.000,- , sedangkan tiket masuk untuk bagian dalam Keraton melalui Keben adalah sebesar Rp. 7.000,-

Tempat parkir kendaraan terdapat di sekitar Pagelaran, sekitar Keben, dan Alun-alun Utara. Banyak terdapat kios penjual cinderamata di sekitar Keraton.
A. Selayang Pandang

Candi Sambisari

Candi Sambisari merupakan salah satu candi peninggalan masa kejayaan Hindu di tanah Jawa yang secara administratitf terletak di wilayah Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Candi beraliran Syiwaistis yang dibangun pada abad X oleh Wangsa Syailendra ini ditemukan pada tahun 1966 secara tidak sengaja oleh seorang petani dari Desa Sambisari yang bernama Karyoniangun ketika sedang mencangkul di ladangnya.

Menindaklanjuti penemuan tersebut, Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian melakukan penelitian dan ekskavasi. Berdasarkan penelitian geologis terhadap batuan candi dan tanah yang telah menimbunnya selama ratusan tahun, candi setinggi 7,5 m ini diperkirakan terkubur oleh material letusan dahsyat Gunung Merapi pada tahun 1006 M. Selanjutnya, dari hasil penggalian yang dilakukan pada bulan Juli 1966, diperoleh kepastian bahwa daerah tersebut memang adalah sebuah situs candi. Pada saat penggalian juga ditemukan benda-benda bersejarah lainnya, seperti perhiasan, tembikar, dan prasasti yang terbuat dari lempengan emas. Menurut tim penggali, penemuan tersebut mengindikasikan bahwa Candi Sambisari dibangun sekitar tahun 812-838 M saat Kerajaan Mataram Hindu (Mataram Kuno) dipimpin oleh Raja Rakai Garung. Setelah ekskavasi selesai dikerjakan, dimulailah proses penyusunan kembali bagian-bagian candi yang saat itu tercerai-berai. Sejak saat itu, situs candi tersebut ditetapkan sebagai kawasan suaka budaya.

Pada tahun 1987, Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan pemugaran dan rekonstruksi terhadap kompleks candi. Dari proses rekonstruksi tersebut, diperoleh kepastian bahwa posisi candi berada pada kedalaman 6,5 meter dari permukaan tanah. Karena posisinya yang berada di bawah permukaan tanah tersebut, oleh masyarakat sekitar, Candi Sambisari kemudian disebut sebagai candi bawah tanah. 

Dibandingkan dengan candi-cand Hindu di tanah Jawa lainnya, Candi Sambisari memiliki keunikan tersendiri, yaitu letaknya yang berada di bawah permukaan tanah sedalam 6,5 m. Sehingga, ketika pengunjung melihatnya dari samping, candi ini seolah-olah muncul dari bawah tanah.  

Dilihat dari segi arsitekturnya, candi ini juga memiliki keistimewaan—yang dapat dilihat dari bagian-bagian yang menyusun keseluruhan kompleks candi. Bagian utama candi ini memiliki ketinggian 7,5 m, berbentuk bujur sangkar yang berukuran 15,6 x 13,6 m. Menurut Balai Arkeologi Yogyakarta, kompleks Candi Sambisari diperkirakan lebih luas dari ukuran tersebut jika dilakukan penggalian lebih lanjut. Tapi jika dilakukan ekskavasi lagi, dikhawatirkan candi ini akan tergenang air jika musim hujan tiba, karena posisinya lebih rendah dari sungai yang terdapat di sebelah baratnya.   

Bagi pengunjung yang ingin memasuki bangunan utama, dapat menuju pintu masuk yang terdapat di sisi barat bangunan utama. Selama menaiki tangga menuju pintu masuk, pengunjung akan menjumpai ornamen unik berupa sayap yang terdapat di tangga. Di ujung sayap tangga tersebut, terdapat relief Makara yang disangga oleh dua buah patung yang menyerupai mahluk kerdil. Keunikan lainnya dari bangunan candi ini adalah tidak memiliki pilar penyangga, sehingga bagian dasarnya sekaligus berfungsi sebagai pilar penyangga. Di bagian ini terdapat selasar yang mengelilingi badan candi dan memiliki 12 anak tangga.

Di bagian luar badan bangunan utama candi, pengunjung dapat menjumpai relung-relung sebagai tempat untuk menaruh patung. Pengunjung dapat melihat patung Dewi Durga di sebelah utara, patung Ganesha di sisi timur, dan patung Agastya di bagian selatan. Dua relung lainnya yang terdapat di kanan dan kiri pintu, adalah tempat patung dewa penjaga pintu, yaitu Mahakala dan Nadisywara. Namun sayang sekali, kedua patung tersebut saat ini sudah tidak berada di tempatnya karena ulah tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pengunjung juga dapat menjumpai patung Yoni dan Lingga yang berukuran besar pada sebuah bilik di dalam badan candi.

Selain candi utama, di kompleks Candi Sambisari juga terdapat 3 buah candi perwara atau candi pendamping yang terletak di depan candi utama. Candi perwara ini memiliki luas 4,8 meter persegi dan tinggi 5 meter. Sedangkan di bagian luar bangunan candi, pengunjung dapat menjumpai tembok yang terbuat dari batu putih dengan ukuran 50 m x 48 m yang mengelilingi bangunan candi. 

Candi Sambisari secara administratif terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Indonesia.

Untuk memasuki kompleks Candi Sambisari, pengunjung dipungut biaya yang sangat murah, yaitu hanya Rp 500 setiap orang (Juni 2008).

Untuk mencapai lokasi candi yang terletak sekitar 12 km ke arah timur dari kota Yogyakarta ini, atau 5 km dari arah Candi Prambanan, dapat ditempuh dengan naik bus jurusan Yogya-Solo sampai kilometer 10 di mana terdapat papan penunjuk jalan menuju candi. Dari tepi jalan besar ini, perjalanan sekitar 2 km lagi  dapat ditempuh dengan ojek.

Karena letaknya yang berada di tengah-tengah area persawahan, di sekitar kompleks Candisari belum dapat dijumpai fasilitas-fasilitas penunjang yang cukup lengkap. Pengunjung hanya dapat menemukan beberapa fasilitas sederhana seperti warung makan, toko kelontong, masjid, yang terdapat di perkampungan penduduk dekat kompleks candi. Bagi pengunjung yang membutuhkan fasilitas dan sarana akomodasi yang lebih lengkap, tempat terdekat untuk mendapatkannya adalah di Kota Yogyakarta, yang berjarak sekitar 12 km ke arah barat. Di kota ini tersedia fasilitas-fasilitas yang terbilang lengkap, seperti hotel, restoran, mall, bandara internasional (Bandara Adisucipto), sarana peribadatan berbagai agama, salon kecantikan, cafe, galeri seni rupa, museum, dan lain-lain.

Taman Sari

Tamansari adalah taman tempat Raja dan keluarganya tetirah. Tamansari mencakup komplek seluas 12 hektar yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1757. Arsitek bangunan ini berasal dari Portugis, sehingga nuansa Portugis terasa sangat kental pada bentuk bangunan, dipadu dengan relief Jawa yang terdapat pada hampir seluruh bagian. Aslinya, komplek ini dikelilingi oleh air. Raja menuju ke Tamansari dari Keraton dengan mendayung perahu.

Halaman belakang yang luas dihiasi dengan pot-pot besar dan empat buah bangunan yang disebut dengan Gedung Papat. Bangunan ini digunakan oleh para putri keraton untuk beristirahat setelah berenang di kolam. Di dalam  Tamansari terdapat tiga buah kolam, yaitu kolam untuk anak-anak, kolam utama untuk para putri, dan kolam khusus untuk Raja.

Di sebelah selatan kolam terdapat tempat khusus bagi Raja untuk  bertapa.  Adapun di sebelah utara kolam terdapat masjid yang terletak di bawah tanah. Masjid ini sangat unik, berbentuk lorong melingkar seperti donat, dan terdiri atas dua lantai. Lantai bawah dipakai untuk jamaah wanita, lantai atas untuk jamaah pria. Tangga dari lantai bawah menuju ke lantai atas terletak di tengah-tengah lingkaran.

Di dekat masjid terdapat Sumur Gumuling (lorong bawah tanah yang konon menghubungkan Tamansari dengan pantai Selatan). Terdapat juga terowongan bawah tanah yang menghubungkan Tamansari dengan Kraton Yogyakarta. Melalui lorong bawah tanah ini para abdi dalem hilir mudik menyiapkan segala sesuatu jika raja dan keluarga bermaksud tetirah di Tamansari.

Bagian penting lain dari Tamansari adalah Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti. Pulau Kenanga berupa bangunan tinggi yang berfungsi sebagai tempat beristirahat, sekaligus sebagai tempat pengintaian. Bangunan inilah satu-satunya yang akan kelihatan apabila kanal air dibuka dan kawasan Tamansari digenangi oleh air.

Selain sebagai tempat bersantai dan berwisata keluarga raja, Tamansari juga berfungsi sebagai tempat berlindung dengan sistem pertahanan yang unik. Air di Tamansari tidak hanya berfungsi untuk memperindah taman, tetapi juga sebagai senjata rahasia untuk melindungi diri dari bahaya. Jika musuh menyerang, Sultan dan keluarganya dapat melarikan diri melalui terowongan bawah tanah. Setelah semuanya berada di tempat aman, gerbang air akan dibuka dan air akan membanjiri musuh hingga tenggelam.  

Tamansari merupakan bangunan tua bersejarah yang memiliki makna dan nilai yang sangat kaya. Arsitektur bangunan sangat canggih, dan sudah lama menjadi studi yang mendalam bagi para arsitek serta arkheolog. Sebagian bangunan sudah rusak, tetapi bangunan yang tersisa masih mampu menggambarkan bentuk bangunan asli dulu.

Tamansari terletak di lingkungan Keraton Yogyakarta, tepatnya di arah barat – selatan Keraton, di sebelah selatan Pasar Ngasem.

Dari Keraton Yogyakarta, perjalanan ke Tamansari bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit, atau dengan mobil selama 5 menit. Becak juga banyak tersedia. Terdapat banyak akses untuk masuk ke Tamansari melalui jalan kecil di kampung Taman, tetapi jika pengunjung membawa mobil, akan lebih nyaman masuk Tamansari melalui gerbang timur, karena disini terdapat tempat parkir yang cukup luas.

Tiket masuk ke Tamansari sebesar Rp. 3.000,- dan jika membawa kamera harus membayar lagi sebesar Rp. 1.000,-

Bagi pengunjung yang ingin mengetahui makna, kegunaan tiap-tiap bangunan, dan sejarah Tamansari, terdapat banyak pemandu wisata yang siap memberikan penjelasan. Tarif bagi pemandu wisata tergantung kesepakatan, berkisar antara Rp. 25.000 – Rp. 50.000,-

Candi Barong

Jika berminat menikmati liburan dengan mengunjungi candi, ada baiknya Anda menikmati pesona candi-candi lain yang tak kalah menariknya dari Candi Prambanan atau Candi Borobudur. Berkunjunglah ke Candi Barong, salah satu candi unik yang terdapat di wilayah selatan Candi Prambanan, tepatnya di perbukitan Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Berbeda dengan candi Hindu lainnya yang menjadi tempat pemujaan Dewa Siwa (dewa perusak), Candi Barong merupakan kompleks peribadatan untuk memuja Dewa Wisnu dan istrinya, Dewi Laksmi atau yang terkenal dengan nama Dewi Sri (dewi kesuburan bagi pertanian). Pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Sri ini, menurut Dra. Andi Riana (Kepala Unit Candi Barong) kemungkinan disebabkan oleh kondisi tanah di sekitar candi yang tandus dan tidak subur. Sehingga, dengan memuja Dewa Wisnu dan Dewi Sri diharapkan kondisi tanah tersebut menjadi subur.
Arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang ditemukan di Candi Barong

Kompleks candi ini ditemukan oleh orang Belanda sekitar tahun 1913, pada saat perluasaan perkebunan tebu untuk mendukung produksi pabrik gula. Ketika itu, kondisi candi masih berupa reruntuhan dan sulit dikenali bentuk aslinya. Baru pada tahun 1970-an proyek pemugaran mulai dilakukan. Proses susun-coba candi mulai dilakukan pada tahun 1978, dan akhirnya berhasil merestorasi bangunan candi pertama pada tahun 1994. Pada tahun-tahun selanjutnya, diadakan pemugaran pada candi kedua, pemugaran pada pagar, serta pemugaran pada talut (bagian tepi kompleks candi yang landai).
Papan nama Candi Barong

Kompleks Candi Barong memiliki tiga teras. Teras pertama adalah halaman terluar candi, dibatasi oleh garis batu yang merupakan area kosong yang dianggap profan. Teras kedua berada di atas teras pertama yang disusun dari tumpukan batu. Di teras kedua ini ditemukan beberapa umpak batu bersegi delapan, yang diperkirakan merupakan fondasi bangunan pendopo yang terbuat dari kayu. Teras kedua ini dianggap sebagai area semi-profan. Sementara teras ketiga adalah area yang dianggap sakral, di mana terdapat dua candi: candi pertama untuk memuja Dewa Wisnu, sedangkan candi kedua untuk memuja Dewi Sri. Teras ketiga ini merupakan area tertinggi, di mana untuk memasukinya, pengunjung harus melewati tangga dan sebuah pintu gerbang yang tersusun dari batu andesit.
Candi untuk memuja Dewa Wisnu dan Dewi Sri di teras ketiga

Berdasarkan data arkeologis, dua candi tersebut tidak dibangun pada waktu yang bersamaan, melainkan selang beberapa tahun setelah candi pertama selesai. Hal ini terlihat dari pelebaran talut yang dilakukan pada saat membangun candi yang kedua. Kompleks Candi Barong ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-9 hingga 10 Masehi. Bentuk dan ukuran kedua candi tersebut hampir sama. Candi pertama berukuran 8,20 m x 8,20 m dengan tinggi 9,25 m, sedangkan candi kedua berukuran 8,25 m x 8,25 m dengan tinggi 9,25 m.

Mengunjungi Candi Barong ini, Anda akan menemukan beberapa keunikan yang tidak dapat ditemukan pada candi-candi peninggalan agama Hindu lainnya di Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Keunikan pertama adalah hiasan kala makara berupa kepala singa (barong) yang memiliki rahang bawah. Hiasan kala makara biasanya dipahat di atas pintu atau relung-relung candi sebagai simbol penolak bala. Hiasan barong di candi-candi lain di Yogyakarta maupun Jawa Tengah biasanya hanya menggambarkan muka singa tanpa rahang bawah, sehingga hiasan di Candi Barong ini nampak cukup istimewa. Mungkin karena cukup istimewa itulah candi ini kemudian dijuluki Candi Barong oleh masyarakat sekitar. Hiasan barong yang sama juga terdapat di beberapa candi di Jawa Timur yang usianya lebih muda (dibuat pada masa Kerajaan Singosari maupun Kerajaan Majapahit).
Hiasan barong di relung Candi Barong

Pada candi ini juga ditemukan beberapa arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Diperkirakan arca-arca tersebut dulunya diletakkan di relung-relung candi (pintu semu), sebab Candi Barong tidak memiliki ruangan. Saat ini arca-arca tersebut disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Kabupaten Sleman. Hiasan lainnya yang cukup unik adalah relief Ghana dan Sankha bersayap. Ghana adalah hiasan berupa makhluk kerdil yang menopang atau menyangga relung-relung candi. Sementara Sankha bersayap merupakan salah satu simbol Dewa Wisnu. Keberadaan relief sankha bersayap ini menguatkan asumsi bahwa candi ini merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Wisnu, bukan Dewa Siwa seperti pada kebanyakan candi Hindu lainnya.
Relief Sankha bersayap di dinding Candi Barong

Sekitar 100 meter arah tenggara Candi Barong terdapat reruntuhan Candi Dawangsari, yang merupakan candi Buddha. Dekatnya kedua bangunan candi berbeda agama ini menggambarkan bahwa pada saat itu telah terbangun kehidupan yang harmonis di antara para pemeluk agama yang berbeda.

Candi Barong terletak di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta, Indonesia.

Dari Kota Yogyakarta, Candi Barong terletak sekitar 27 kilometer arah timur. Wisatawan yang akan berkunjung ke Candi Barong dapat menempuh rute melalui Candi Prambanan dengan menggunakan bus Trans-Jogja (Trayek 1 A atau 1 B) atau menggunakan jasa taksi. Dari Candi Prambanan yang terletak di tepi jalan Yogyakarta-Solo, wisatawan dapat mengambil arah selatan (ke kanan jika berangkat dari Yogyakarta, atau ke kiri jika dari arah Solo) hingga sampai pertigaan yang menunjukkan arah Candi Barong dan Candi Banyunibo. Dari pertigaan ini ikuti saja petunjuk arah menuju Candi Barong. Namun, jika khawatir tersesat, sebaiknya Anda bertanya pada warga sekitar. Dari Candi Prambanan menuju Candi Barong wisatawan dapat memanfaatkan ojek atau taksi, sebab angkutan umum lainnya belum tersedia.

Saat ini wisatawan yang berkunjung ke Candi Barong tidak dipungut biaya. Wisatawan cukup membubuhkan data diri di buku tamu yang terdapat di Pos Jaga Candi Barong. Namun, ke depan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Sleman sedang merencanakan untuk menarik retribusi bagi pengunjung.

Obyek wisata Candi Barong saat ini masih minim fasilitas. Namun, bagi Anda yang sangat tertarik mengunjungi atau mempelajari Candi Barong, dapat menghubungi Pos Jaga Unit Candi Barong yang berada di pintu masuk kawasan candi. Para petugas di kantor ini akan memberikan informasi seputar sejarah keberadaan Candi Barong. Apabila memerlukan penginapan maupun restoran, wisatawan dapat memperolehnya di sekitar Candi Prambanan.

Candi Ijo

Candi Ijo adalah nama sebuah kompleks percandian yang terletak di Bukit Ijo. Nama candi tersebut diambil dari nama lokasi dibangunnya candi yang oleh masyarakat setempat dinamakan ‘Gumuk Ijo‘ (gumuk = bukit). Bukit Ijo merupakan perbukitan tertinggi di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, dengan puncak tertinggi sekitar 410 meter di atas permukaan laut (dpl). Lokasi Candi Ijo sendiri berada pada ketinggian 357,402 m – 395,481 m dpl. Lokasi ini merupakan lokasi candi tertinggi dibandingkan candi-candi lainnya di wilayah Yogyakarta. Maka tak heran jika di kalangan penikmat wisata purbakala, Candi Ijo juga dikenal dengan sebutan ‘Candi Tertinggi‘ di Yogyakarta.

Kompleks Candi Ijo sebetulnya masih berada dalam satu perbukitan dengan candi-candi lain, semisal Candi Ratu Boko, Candi Barong, serta Candi Banyunibo. Candi-candi tersebut berada di atas perbukitan kapur Kecamatan Prambanan. Candi Ijo sendiri diperkirakan dibangun sekitar abad ke-9 Masehi. Dari area candi ini, jika wisatawan memandang ke arah selatan, akan nampak lembah berteras curam yang sangat sedap dipandang. Tanah di perbukitan ini memang tandus, tetapi di musim hujan tumbuhan semak dan belukar nampak menyelimuti perbukitan. Apabila wisatawan memandang ke arah barat, akan nampak Bandara Internasional Adisutjipto yang berada di tepi barat perbukitan Prambanan.

Candi Ijo adalah kompleks percandian yang terdiri dari 17 struktur bangunan dan terbagi ke dalam 11 teras. Teras pertama hingga teras kesebelas merupakan teras berundak yang membujur dari arah barat ke timur. Struktur teras ini merupakan salah satu bentuk akulturasi budaya Hindu dengan kebudayaan lokal yang nampak dalam struktur tempat peribadatan zaman megalitik, yaitu punden berundak.

Dari kesebelas teras tersebut, teras terakhir atau teras tertinggi adalah wilayah yang dianggap paling sakral, di mana terdapat sebuah candi utama dengan tiga candi perwara (pengiring). Saat ini, struktur bangunan candi yang telah berhasil dipugar adalah kompleks candi utama dan tiga candi perwara tersebut. Sedangkan struktur bangunan lainnya, dari teras pertama hingga teras kesepuluh masih dalam proses identifikasi dan proses susun-coba struktur bangunan candi.
Tiga candi perwara (pengiring)

Wisatawan yang berkunjung ke kompleks Candi Ijo dapat menikmati keunikan candi yang menjadi tempat untuk memuja Dewa Siwa ini dengan menyaksikan peninggalan Lingga-Yoni yang terdapat di dalam candi. Susunan Lingga-Yoni yang terdapat di dalam Candi Ijo memiliki ukuran yang cukup besar dan merupakan salah satu yang terbesar di Nusantara. Menurut Dra. Sri Sugiarti (Kepala Unit Candi Ijo), besarnya ukuran Lingga-Yoni di candi ini merupakan manifestasi dari besarnya pemujaan terhadap Dewa Siwa dan Dewi Parwati (istri Dewa Siwa). Selain merepresentasikan Dewa Siwa dan Dewi Parwati, Lingga-Yoni juga merujuk pada sifat lelaki dan perempuan, sehingga dalam hal ini ia bermakna kesuburan dan awal mula kehidupan. Pemujaan terhadap Dewa Siwa melalui lingga biasa disebut lingga kultus.

Struktur Lingga-Yoni di candi ini pun cukup unik. Batu lingga yang bulat silinder berdiri di atas penampang (Yoni) berbentuk ceruk yang memiliki ujung sebagai tempat aliran air. Tempat aliran air tersebut ditopang oleh pahatan berbentuk kepala naga dan kura-kura. Menurut Sri Sugiarti, kemungkinan dahulu pemujaan terhadap Dewa Siwa dilakukan dengan menuangkan air di atas Lingga hingga mengalir diujung ceruk Yoni. Aliran air hasil pemujaan tersebut kemudian dianggap sebagai air suci.
Lingga-Yoni di Candi Ijo

Selain menyaksikan Lingga-Yoni, wisatawan juga dapat melihat beberapa arca dan relief yang terdapat di Candi Ijo ini. Salah satunya adalah arca nandi (lembu) yang dalam mitologi Hindu dianggap sebagai kendaraan Dewa Siwa. Adapun arca-arca lainnya, seperti arca Agastya, Ganesha, dan Durga yang semula merupakan hiasan pada relung-relung candi kini telah disimpan di Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakaa (BP3) Yogyakarta. Sementara relief yang terdapat di Candi Ijo menggambarkan sosok laki-laki dan perempuan yang sedang melayang. Relief ini menggambarkan Dewa Siwa dan Dewi Parwati sebagai lambang untuk mengusir roh jahat.
Relief di dalam Candi Ijo

Keunikan lainnya dapat dilihat pada bekas salah satu pondasi candi yang dipahat langsung dari batuan bukit kapur. Berbeda dengan struktur bangunan candi pada umumnya yang disusun dari batu-batu andesit, salah satu pondasi candi di kompleks Candi Ijo malah memanfaatkan bukit batu sebagai pondasi candi dengan cara memahatnya. Pondasi dari bukit batu tersebut masih dapat dilihat, sementara badan bangunannya belum bisa direstorasi.
Pondasi candi yang dipahat langsung dari bukit batu

Peninggalan lainnya yang cukup berharga adalah dua prasasti batu yang ditemukan di reruntuhan sebuah candi pada teras kedelapan. Prasasti pertama merupakan prasasti dengan ukuran setinggi satu meter yang berisi tulisan berbunyi ‘Guywan‘ yang oleh Soekarto dibaca ‘Bhuyutan‘ yang berarti ‘pertapaan‘. Saat ini prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti kedua berukuran lebih kecil, tinggi sekitar 14 cm dan tebal 9 cm, yang berisi 16 buah kalimat mantra kutukan yang diulang-ulang. Mantra tersebut berbunyi ‘Om sarwwawinasa, sarwwawinasa‘. Prasasti ini tidak menyertakan tahun, akan tetapi dari sudut paleografis dapat diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. (Andrisijanti [ed.], 2003: 65).

Candi Ijo terletak di Bukit Ijo, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta, Indonesia.

Dari Kota Yogyakarta, Candi Ijo terletak sekitar 28 kilometer ke arah timur. Wisatawan yang ingin mengunjungi Candi Ijo dapat menempuh rute menuju Candi Prambanan dengan menggunakan bus Trans-Jogja (Trayek 1 A atau 1 B) atau menggunakan jasa taksi. Dari Candi Prambanan wisatawan menuju arah selatan (ke kanan jika berangkat dari Yogyakarta, atau ke kiri jika dari arah Solo) dengan menggunakan jasa ojek atau taksi. Arah menuju Candi Ijo merupakan jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta-Piyungan. Setelah perjalanan sekitar 15 menit, akan nampak papan nama menuju Candi Ijo. Ikutilah papan nama tersebut hingga sampai di kompleks Candi Ijo yang terletak di tepi jalan menanjak Bukit Ijo.

Wisatawan yang berkunjung ke Candi Ijo cukup mengisi daftar buku tamu tanpa dipungut biaya. Namun rencananya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Sleman akan segera menarik retribusi bagi pengunjung.

Wisatawan yang memerlukan data atau sejarah mengenai Candi Ijo dapat mendatangi Pos Jaga Candi Ijo. Para petugas di candi ini dengan senang hati akan memberi penjelasan mengenai penemuan, proses pemugaran, maupun sejarah keberadaan candi. Apabila memerlukan penginapan atau rumah makan, wisatawan dapat memperolehnya di sekitar Candi prambanan.

Monjali

Monumen Yogya Kembali yang sering disingkat menjadi Monjali mulai dibangun pada tanggal 29 Juni 1985. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Tanggal 29 Juni dipilih sebagai awal pembangunan untuk memperingati ditariknya tentara Belanda dari Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Pada tanggal 6 Juli 1949 Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta masuk kembali ke Yogyakarta yang pada waktu itu berstatus sebagai ibukota RI. Tanggal 6 Juli 1989 (tepat 50 tahun kemudian), Monumen Yogya Kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Monumen ini berisi sejarah perjuangan tentara dan rakyat Yogyakarta melawan Belanda, khususnya perang gerilya merebut kembali kota Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949 yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Monumen berbentuk tumpeng ini memiliki tinggi 31,8 meter, berdiri di lahan seluas 5,6 hektar. Halaman monumen ini merupakan plasa yang luas, yang kerap digunakan sebagai tempat pelaksanaan berbagai acara. Beberapa senjata militer yang pernah digunakan TNI pada masa lalu diletakkan di halaman depan monumen, sebagai bagian dari benda bersejarah.

Monumen memiliki empat pintu masuk. Pintu barat dan pintu timur menuju ke museum yang berada di lantai satu. Di dalam museum ini tersimpan lebih dari 1.000 koleksi yang berkaitan dengan Serangan umum 1 Maret 1949. Pintu selatan dan pintu utara menuju ke lantai dua yang beisi relief dan diorama. Adapun lantai tiga yang merupakan lantai teratas merupakan ruang hening untuk bermeditasi.

Bentuknya yang menyerupai tumpeng atau gunung memiliki makna yang mendalam dalam budaya Jawa yang merupakan budaya rakyat Yogyakarta, yaitu perlambang kesuburan.

Monumen Yogya Kembali terletak di Jalan Lingkar Utara Yogyakarta, yaitu di desa Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Jika ditarik garis lurus, Monjali terletak pada satu garis dengan pantai Parangtritis, Keraton Yogyakarta, Tugu Yogya, dan Gunung Merapi. Monumen Yogya Kembali berjarak 6 km di sebelah utara Keraton Yogyakarta.

Monumen Yogya Kembali sangat mudah dicapai dari kota Yogyakarta. Banyak angkutan umum melewati lokasi monumen ini.

Harga tiket adalah Rp. 2.000,- per orang

Terdapat tempat parkir yang sangat luas dan fasilitas umum seperti mushola. Di sebelah timur monumen terdapat rumah makan Pandan Perak yang cukup besar bagi pengunjung yang ingin beristirahat dan mengisi perut. Juga terdapat banyak kios yang menjual berbagai makanan dan cindera mata.

Candi Ratu Boko Kabupaten Sleman – D.I. Yogyakarta – Indonesia

Selama ini, wisatawan yang berkunjung ke Provinsi DI Yogyakarta lebih mengenal Candi Prambanan sebagai salah satu objek wisata yang patut dikunjungi. Padahal, sekitar tiga kilometer arah selatan Candi Prambanan, terdapat bangunan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno lainnya, yakni kompleks Candi Ratu Boko. Candi Ratu Boko ini dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra.

Kompleks Candi Ratu Boko pertama kali ditemukan pada tahun 1790 oleh van Boeckhlotz. Namun, baru seratus tahun setelahnya, penelitian serius terhadap candi ini dilakukan dan dipublikasikan dalam buku Keraton van Ratoe Boko. Menurut anggapan para ahli sejarah, candi ini memiliki multifungsi, yakni sebagai benteng keraton, tempat ibadah, dan gua.

Keseluruhan areal candi yang terletak sekitar 196 m di atas permukaan laut ini adalah 250.000 m2, yang ­terbagi atas empat bagian, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah candi ini terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, candi pembakaran, kolam, batu berumpak, dan paseban. Bagian tenggara meliputi pendopo, balai-balai, tiga buah candi, kolam, dan kompleks keputren. Pada bagian ini juga terdapat sebuah sumur bernama Amerta Mantana yang artinya air suci. Konon, air dalam sumur ini memiliki khasiat yang dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Di bagian timur terdapat kompleks gua, stupa Buddha, dan kolam. Sedangkan di bagian barat terdapat perbukitan yang sangat menarik untuk dijadikan lokasi beristirahat setelah lelah mengelilingi kawasan candi ini.
Kolam dan gua di kawasan Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh candi-candi lainnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang pada umumnya dibuat hanya untuk tempat ibadah. Peninggalan di situs Candi Ratu Boko menunjukkan bahwa bangunan tersebut memiliki sifat profan yang ditunjukkan dengan keberadaan keputren dan paseban.
Kompleks Keputren di candi Ratu Boko

Di samping itu, di dalam bangunan candi ini juga dapat terlihat adanya perpaduan antara unsur-unsur Hindu dan Buddha. Hal ini terlihat dari adanya patung Lingga dan Yoni, Arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan Om Rudra ya namah swaha. Lempengan tersebut menyiratkan satu bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra, nama lain dari Dewa Siwa. Kenyataan ini menggambarkan bahwa Rakai Panangkaran, sang pemrakarsa candi, yang beragama Budha dapat menghargai warganya yang menganut agama Hindu.

Dari salah satu bagian di candi ini, tepatnya di Plaza Andrawina, jika menghadap ke arah utara, pengunjung akan melihat pemadangan yang cantik berupa Kota Yogyakarta dan Candi Prambanan, dengan Gunung Merapi sebagai latar belakangnya. Jika pengunjung berada di lokasi candi ini hingga matahari terbenam, nuansa sekitar candi akan semakin cantik dengan kehadiran semburat jingga di waktu senja.
Plaza Andrawina

Kawasan Candi Ratu Boko terletak sekitar 17 km sebelah timur Kota Yogyakarta. Tepatnya di Kecamatan Bokoharjo, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta, Indonesia.

Wisatawan yang mengunjungi kawasan Candi Ratu Boko, dapat menggunakan bus Trans Jogja trayek 1A dan 1B hingga sampai di Terminal Prambanan dengan biaya Rp 3.000,00 per orang. Dari terminal tersebut, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek sampai ke Candi Ratu Boko. Jika ingin perjalanan yang lebih mudah, wisatawan dapat menyewa mobil dengan harga sekitar Rp 200.000,00—Rp 350.000,00 per harinya (Januari 2009).

Untuk mengunjungi kawasan wisata ini, pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000,00 per orang. Selain itu, jika pengunjung membawa mobil pribadi, akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp 5.000,00. Sementara itu, jika ingin menikmati panorama matahari terbenam di Candi Boko, pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp 35.000,00.

Di Plaza Andrawina, selain dapat menikmati pemandangan indah, tempat ini juga berfungsi sebagai restoran. Di tempat ini, pengunjung yang telah usai menjelajahi tiap sudut kawasan Candi Boko, dapat beristirahat sekaligus mengisi perut yang lapar. Selain restoran, di lokasi candi ini juga telah dilengkapi dengan toilet dan mushola.

Candi Prambanan – Kabupaten Sleman – D.I. Yogyakarta – Indonesia

Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.  Candi yang juga terkenal dengan sebutan Candi Rara Jonggrang ini dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Wangsa Sanjaya.

Candi yang sejak tahun 1991 ditetapkan UNESCO sebagai cagar budaya dunia (World Wonder Heritage) ini menempati kompleks seluas 39,8 hektar. Menjulang setinggi 47 meter atau lima meter lebih tinggi dari Candi Borobudur, Candi Prambanan telihat perkasa dan kokoh. Hal ini sesuai dengan latar belakang pembangunan candi ini, yaitu ingin menunjukkan kejayaan peradaban Hindu di tanah Jawa. 

Lalu kenapa Candi Prambanan juga disebut Candi Rara Jonggrang? Hal ini terkait dengan sebuah legenda yang diyakini sebagian masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, seorang pangeran bernama Bandung Bondowoso jatuh hati kepada putri raja yang rupawan parasnya, ia benama Rara Jonggrang. Karena tak kuasa menolak cinta sang pangeran, Jonggrang mengajukan syarat kepada Bondowoso untuk dibuatkan candi dengan 1.000 arca dalam waktu semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi, sebelum akhirnya Jonggrang berhasil meminta bantuan warga desa untuk menumbuk padi dan membuat api besar agar terkesan suasana sudah pagi hari. Karena merasa dicurangi, Bondowoso yang baru membuat arca ke-999 kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1.000.

Candi Prambanan adalah pengejawantahan peradaban Hindu di tanah Jawa. Hal ini dapat dilihat dari struktur candi yang menggambarkan inti kepercayaan dalam agama Hindu, yaitu Trimurti. Kompleks Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Keistimewaan Candi Prambanan lainnya yang wajib disaksikan oleh wisatawan adalah keindahan relief-reliefnya yang menempel di dinding candi. Kisah Ramayana menjadi relief utama candi ini. Namun, relief lain yang tak kalah menarik adalah pohon kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian, dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini menggambarkan betapa masyarakat Jawa abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Bagi pengunjung yang ingin menuntaskan keingintahuannya terhadap seluk-beluk Candi Prambanan, pengunjung dapat menyambangi sebuah museum yang juga berada di kompleks candi. Di museum ini, pengunjung dapat menikmati audio visual tentang sejarah ditemukannya Candi Prambanan hingga proses renovasinya secara lengkap. Bagi wisatawan yang berkunjung bersama keluarga, di Candi Prambanan juga terdapat taman bermain untuk anak-anak dan kereta mini yang dapat mengantarkan pengunjung mengelilingi kawasan wisata tersebut.

Salah satu event wisata yang sayang untuk dilewatkan adalah pementasan Sendratari Ramayana. Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang menyatukan ragam kesenian Jawa seperti tari, drama, dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Kisah Ramayana yang dibawakan dalam pertunjukan ini merupakan penerjemahan dari relief yang terpahat di Candi Prambanan. Cerita Ramayana yang terpahat di candi ini mirip dengan cerita yang berkembang dalam tradisi lisan di India. Jalan cerita yang panjang dan menegangkan dirangkum dalam empat lakon atau babak, yaitu: penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama—Sinta. Pementasan ini sudah berjalan sejak tahun 1960-an dan dilaksanakan setiap bulan pada malam purnama.

Candi Prambanan terletak di Desa Prambanan yang secara administratif terbagi menjadi dua bagian, yaitu antara kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah.

Letaknya yang tepat di tepi jalan raya Yogyakarta—Solo membuat kompleks Candi Prambanan mudah untuk dijangkau dari arah manapun, baik dari arah Yogyakarta maupun Solo. Kalau dari arah Yogyakarta, pengunjung cukup mengeluarkan ongkos Rp 4000 untuk sampai di lokasi. Sedangkan, jika menempuh perjalanan dari arah Solo, pengunjung hanya mengeluarkan Rp 6000. Bagi pengunjung yang memulai perjalanan dari Klaten, banyak jalur yang bisa dipilih, bisa menggunakan bus jurusan Yogyakarta—Solo atau bus jurusan Terminal Klaten-Prambanan. Keduanya sama mudahnya. 

Tiket masuk dibedakan antara wisatawan lokal dengan wisatawan mancanegara. Untuk wisatawan lokal tiket masuk Rp 8.000, sedangkan untuk wisatawan mancanegara tiket masuk sebesar US$ 10. Objek wisata Candi Prambanan buka setiap hari mulai pukul 08.00-17.00 WIB.

Di sekitar kompleks candi tersedia akomodasi dan fasilitas yang cukup lengkap, seperti hotel/rumah penginapan, restoran/rumah makan, toko-toko cenderamata, warung telekomunikasi, dan warung internet. Selain itu, kehadiran para tenaga pemandu wisata yang mudah dijumpai di sekitar candi akan menyempurnakan kunjungan para wisatawan. Sebab, mereka akan memandu wisatawan menelusuri jejak-jekak kemasyhuran peradaban Jawa-Hindu dengan Candi Prambanan sebagai monumen utamanya.

Di kota Yogyakarta, di mana banyak orang menyebut kota ini memiliki sejuta kenangan, terdapat satu kawasan belanja legendaris, yakni Malioboro. Penamaan ‘Malioboro‘ diadopsi dari nama seseorang anggota kolonial Inggris yang pernah menduduki Yogyakarta pada tahun 1811—1816 M, yakni Marlborough.

Malioboro memang sengaja dibangun di jantung kota Yogyakarta oleh pemerintah Kolonial Hindia-Belanda di awal abad ke-19 sebagai pusat aktivitas perekonomian dan pemerintahan. Kawasan ini secara simbolis juga berfungsi untuk menandingi dominasi kekuasaan Sultan Mataram melalui kemegahan keratonnya.

Untuk tujuan tersebut, didirikanlah: Benteng Vredeburg [1765, kini menjadi museum dan arena wisata publik], Istana Keresidenan Kolonial [sekarang menjadi Istana Presiden, Gedung Agung di tahun 1832 M], Pasar Beringharjo, Hotel Garuda [tempat menginap dan berkumpul para elite kolonial ketika itu] dan kawasan pertokoan [perekonomian] Malioboro sendiri. Posisi semua bangunan tersebut berada di depan [utara] Alun-Alun yang menjadi halaman keraton. Bangunan-bangunan bersejarah peninggalan kolonial yang terletak di kawasan Malioboro tersebut menjadi saksi bisu perjalanan kota yang kerap disebut kota pelajar ini dari masa ke masa. Kelak, kawasan ini direncanakan akan menjadi sebuah kawasan pedestrian agar mengurangi kemacetan kendaraan bermotor dan polusi udara dalam kota.

Sebagai kawasan wisata, Malioboro menyajikan berbagai variasi aktivitas berbelanja. Mulai dari cara-cara berbelanja tradisional khas Malioboro, hingga bentuk-bentuk aktivitas belanja modern.

Beragam cara berbelanja khas Malioboro salah satunya ialah proses tawar-menawar berbagai cenderamata yang dijajakan oleh pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang trotoar di kawasan ini. Para pedagang itu menjual beraneka cenderamata dan kerajinan yang terbuat dari perak, gerabah, kain batik, kayu, kuilt, dan lain sebagainya. Namun, jangan heran, misalnya, apabila penjaja menawarkan suvenir yang diminati dengan harga Rp 50.000. Tawaran seperti ini harus disusul dengan proses tawar-menawar dari wisatawan. Sehingga, harga dapat turun drastis hingga, misalnya, si pedagang melepasnya dengan harga Rp 10.000 saja. Hal ini juga dapat wisatawan lakukan ketika mengunjungi Pasar Tradisional Beringharjo yang masih satu area dengan Malioboro. Inilah keunikan dari tradisi wisata belanja di Malioboro.

Berbeda dengan belanja di sepanjang jalan Malioboro ini. Di toko-toko di kawasan Malioboro, wisatawan dapat membeli barang-barang yang diminati, mulai dari batik, berbagai suvenir, pakaian, dan lain sebagainya tanpa ada proses tawar-menawar. Di sini, nampak Malioboro juga hadir sebagai kawasan perbelanjaan modern.

Mengunjungi kawasan ini ibarat pepatah sambil menyelam minum air. Malioboro dekat dengan obyek-obyek wisata sejarah, wisata arsitektur peninggalan kolonial, dan juga wisata belanja tradisional lainnya. Obyek-obyek wisata sejarah yang berada di sekitar Malioboro di antaranya Keraton Yogyakarta dan alun-alunnya, Masjid Agung, Benteng Vredeburg, Museum Sonobudoyo, dan Kampung Kauman. Sedangkan pada wisata arsitektur peninggalan kolonial di Yogyakarta yang masih dapat disaksikan, seperti Gedung Societet [sekarang Taman Budaya], Hotel Inna Garuda, Bank Indonesia, dan Bank BNI‘46. Dan, dua obyek wisata belanja tradisional di dekat kawasan ini, yaitu Pasar Ngasem dan Pasar Beringharjo. Selain itu, bagi wisatawan yang gemar membaca, kawasan ini juga menyediakan perpustakaan umum milik Pemerintah Provinsi DIY.

Selain pelbagai keragaman suasana di atas, wisatawan juga dapat menyaksikan kekhasan lain Malioboro berupa puluhan becak dan andong wisata khas Yogyakarta yang diparkir paralel di sebelah kanan jalan di jalur lambat kawasan ini yang siap mengantar wisatawan berkeliling Malioboro dan sekitarnya. Sedangkan di sebelah kiri jalan, wisatawan dapat melihat ratusan sepeda motor diparkir berjajar di sepanjang trotoar Malioboro yang menjadi tanda bahwa Malioboro adalah kawasan ramai pengunjung.

Segala aktivitas turisme di atas biasanya dilakukan di siang hingga malam hari sekitar pukul 21.00 WIB. Di malam harinya, Malioboro menyuguhkan kepada wisatawan nuansa makan malam dengan berbagai pilihan menu di warung-warung lesehan khas Yogyakarta yang berjejer rapi di tepi jalan Malioboro. Para musisi jalanan akan menghampiri dan menemani santap malam wisatawan di berbagai warung lesehan ini. Masakan yang lezat, lantunan lagu-lagu dari para musisi jalanan, terang lampu kota, dan semilir angin berhembus di malam hari membuat wisatawan kerasan dan akan mengenang Malioboro sebagai kawasan yang seolah tak tertandingi.

Kawasan ini terletak di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Hanya sekitar 800 meter dari Keraton Yogyakarta.

Lantaran menjadi kawasan andalan pariwisata di Yogyakarta, wisatawan memiliki banyak pilihan transportasi yang sesuai untuk sampai di Malioboro.

Wisatawan bisa naik bus: bus kota [menggunakan Jalur 4] dan bus Transjogja [trayek 3A atau 3B]. Semua jenis bus ini dapat ditemui di Terminal Pusat Giwangan atau halte-halte yang ada di seputar Jogja. Tarif bus kota saat ini Rp 2.000, sedangkan untuk bus Transjogja sebesar Rp 3.000 [April 2008].

Ada pula taksi yang bisa dijadikan pilihan lain bagi wisatawan, baik pesan via telepon dari penginapan maupun mencegatnya di pinggir jalan di Yogyakarta. Jika ingin menikmati suasana Kota Yogyakarta, maka bisa dipilih andong wisata maupun becak.

Memasuki kawasan Malioboro, wisatawan tidak dipungut biaya.

Tak diragukan lagi bahwa kawasan ini menyediakan berbagai macam akomodasi bagi wisatawan, mulai dari hotel berbintang lima dengan harga sewa kamar per malamnya mencapai ratusan ribu bahkan jutaan, hingga motel-motel atau homestay, yang harga sewa tiap kamarnya hanya berkisar Rp 20.000 per malam. Bagi yang berminat menginap, wisatawan dapat mencarinya di sekitar Jalan Mangkubumi, Jalan Dagen, Jalan Sosrowijayan, Jalan Malioboro, Jalan Suryatmajan, dan Jalan Mataram. Atau mencari penginapan di bagian barat kawasan ini, yakni Jalan Ngasem yang terletak di dekat Pasar Burung Ngasem dan daerah Wijilan yang letaknya tidak jauh dari kawasan Malioboro.

Selain itu, wisatawan juga dapat memilih berbagai masakan berdasarkan selera masing-masing, mulai dari angkringan [warung berbentuk gerobak yang menyediakan serba-serbi makanan lokal] yang letaknya di utara Stasiun Tugu, masakan-masakan khas Yogyakarta [seperti gudeg, nasi goreng, lalapan, dsb.] yang disajikan dengan suasana lesehan, berbagai masakan Cina, sampai fastfood atau masakan-masakan a la Barat [seperti steak, beef lasagna, dsb.] dalam restoran atau café-café yang ada di sekitar Malioboro.

Fasilitas yang menunjang kawasan ini tak hanya berupa akomodasi dan tempat makan saja, melainkan juga pos informasi bagi wisatawan, polisi pariwisata, tempat ibadah, kios-kios money changer, ATM, kios telepon, warung internet, tempat parkir yang luas, sampai Stasiun Kereta Api Tugu. Jika wisatawan ingin membeli buah tangan untuk sanak keluarga di rumah, cukup berkunjung di sekitar Jalan Mataram atau di sebelah barat Malioboro yang menyediakan berbagai macam penganan khas Jogja, seperti bakpia, geplak, yangko, dan puluhan jenis keripik

4 Responses to “Wisata Yogyakarta”

  1. Track Out Indonesia Says:

    Kami adalah salah satu provider outbound and tour yang berpusat di Kota Malang, Kami menawarkan kerjasama dengan Saudara untuk menjadi pemandu wisata (Tour Guide) Freelance, Apabila Kami mendapatkan konsumen yang akan berwisata di Yogyakarta dan sekitarnya!! Jika Saudara berminat dengan penawaran kerjasama Kami, mohon di e-mailkan biaya untuk 1 Orang Guide dalam sekali perjalanan memandu tour. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.
    E-mail : track_out_indonesia@yahoo.co.id
    Facebook : Track Out Malang
    Via SMS : (081) 234.234.062

    • sasakala Says:

      Terimakasih atas kepercayaan anda, mohon maaf kami kesulitan dengan SDMnya yang mengerti dengan beberapa Bahasa Asing. Mudah2an ada teman2 yang membaca situs ini dan mendaftarkan diri pada kami selanjutnya akan saya teruskan ke Anda atau dapat menghubungi langsung ke email anda tersebut diatas

  2. ADNAN Says:

    JOGJA MEMANG ISTIMEWA

  3. winnymarch Says:

    ada itenari ke tempat wisata jogja selama 3 hari di jogja tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: