Info Wisata Jawa Barat Pulau dan Gua

Info Wisata – Pulau
Pulau Biawak
Pulau Biawak terletak di sebelah utara Pulau Jawa bagian tengah. Masuk wilayah administratif Kabupaten Indramayu, Jawa Barat dan terletak di koordinat  5° 55′ 50″  LS dan  108° 22′ 50″ BT.

Pulau ini sebagai objek wisata bahari dengan taman laut dan ikan hias yang indah serta terumbu karang yang asri. Pasir putih tanaman bakau dan mangrove yang cukup lengkap jenisnya, koloni biawak dan menara mercusuar yang di bangun oleh ZN. Willem pada tahun 1872 mempunyai daya tarik hyistoris terutama bagi wisatawan yang tertarik dengan bangunan – bangunan kuno. Aktivitas rekreasi yang dapat di lakukan di Pulau Biawak ini adalah selam, mancing, snorkeling dan wisata petualangan. Pulau biawak mempunyai luas 120 ha terletak 40 km sebelah utara Kota Indramayu yang dapat di jangkau dengan perahu nelayan.

sumber : http://www.indramayukab.go.id/Info Wisata – Gua

Goa Malawang
Lokasi : Kabupaten Tasikmalaya

  Goa Malawang merupakan sebuah kompleks gua yang terletak di tengah perkebunan, berupa sekumpulan goa dan ceruk. Masyarakat sekitar menamakan kompleks Gua Malawang dengan bermacam nama, seperti Malawang, Batu Masigit, Keraton, Oyod, dan Gorin. Satu hal yang menarik dari penamaan tersebut adalah Gorin, yaitu nama setempat untuk semacam tempayan air dari gerabah. Penamaan Gorin diberikan pada kompleks goa tersebut berdasarkan adanya temuan Gorin oleh Taryana, Kepala Sekolah SKB Tasikmalaya tahun 1993 di salah satu goa. Temuan arkeologis yang berhasil ditemukan berupa 13 buah pecahan gerabah kuna. Kemudian penelitian dilangsungkan beberapa kali, antara lain oleh Balai Arkeologi Bandung. Temuan arkeologis yang ditemukan antara lain berupa fragmen gerabah, fragmen keramik, alat batu berupa perkutor dan kapak batu, dan tulang-tulang binatang.

Anda dapat mencapai tempat ini dan mengamati berbagai penemuan menarik dengan kendaraan roda dua atau roda empat, melewati perkebunan karet yang sudah lama diusahakan, untuk selanjutnya berjalan kaki.
Goa Sunyaragi
Lokasi : Kota Cirebon

Sebuah situs unik di pinggiran Kota Cirebon menunggu kunjungan Anda. Tamansari Goa Sunyaragi, menempati lahan seluas 15.000 m², merupakan milik Keraton Kasepuhan secara turun temurun dan sebagian tanahnya dimiliki oleh Pemerintah di Kota Cirebon. Bentuknya yang unik dengan rongga-rongga dan lorong-lorong yang berliku dan gelap meyerupai gua membuatnya dikenal dengan Gua Sunyaragi. Situs ini awalnya merupakan Taman Kelangenan (taman kenikmatan) atau Taman Sari, yang fungsi utamanya untuk berkhalawatan atau menyepi, maka dikenal pula sebutan taman Kelangenan Sunyaragi (‘sunya’ berarti sunyi, sepi; ‘ragi’ seperti raga).

Kesan sakral yang akan Anda lihat berasal dari lorong-lorong bekas tempat berkhalawat (pertapaan), kolam-kolam pemandian (petirtaan), altar-altar mirip tempat pemujaan, dan benda-benda arkeologis lainnya yang bersifat spiritual. Kesan profan lebih banyak didukung oleh adanya bangunan-bangunan bentuk joglo dan relief-relief kembang kaningaran serta benda-benda arkeologis berupa artefak logam, kayu dan keramik.
Secara visual, motif Wadasan dan Mega Mendung ini sangat mendominasi di sebagian besar tembok kompleks Gua Sunyaragi. Pasangan-pasangan batu karang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk corak Wadasan dan Mega Mendung. Kemudian bagian-bagian tertentu dilengkapi pula dengan motif-motif tanaman rambat, baik berupa patran maupun simbaran. Di situs ini, motif Wadasan dan Mega Mendung diyakini merupakan simbol kehidupan. Mega melambangkan langit atau udara sedangkan Wadas yang berarti batuan melambangkan bumi. Sedangkan motif-motif tanaman merambat, patung-patung hewan dan manusia melambangkan isi dari dunia yang memiliki bumi dan langit beserta isinya.
Selain suasana gaya klasik, Gua Sunyaragi dilengkapi juga dengan gaya Tiongkok kuno seperti ukiran kembang kanigaran, bentuk bunga persik, matahari dan teratai serta penempelan keramik-keramik Cina pada dinding yang tidak terlalu tinggi. Hal ini dapat dimaklumi, karena ketika dibangunnya Goa Sunyaragi, banyak sekali bantuan yang diperoleh dari orang-orang Cina, terutama keturunan pengikut Puteri Ong Tien Nio isteri Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Kalijaga)
Gua Belanda
Lokasi : Kota Bandung

Masukilah dan bayangkan kondisi tentara dulu ketika harus berjuang di dalam goa ini. Dibangun oleh Belanda pada awal tahun 1941, goa ini menembus Perbukitan Pakar di Bandung utara. Goa ini merupakan kawasan yang sangat menarik bagi strategi militer Hindia Belanda dikarenakan lokasinya yang terlindung dan begitu dekat pusat kota Bandung. Karena lokasinya itu juga, menjelang Perang Dunia ke-II pada awal tahun 1941, militer Hindia Belanda membangun stasiun radio komunikasi. Pada masa kemerdekaan, goa ini dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan mesiu, selain sebagai jaringan gua didalam perbukitan batu pasir tufaan.

Gua Jepang
Lokasi : Kota Bandung

Goa lain di Bandung utara yang juga dapat Anda telusuri adalah Goa Jepang. Dibangun di kawasan  Taman Hutan Raya (TAHURA) Ir. H. Juanda, goa ini dibangun pada tahun 1942 dengan panjang lorong keseluruhan sekitar 350 meter. Pembangunan Goaa Jepang dilakukan oleh orang-orang pribumi melalui kerja paksa atau dikenal dengan ”Romusha”,  dengan tujuan sebagai benteng pertahanan tentara jepang.

Gua Jepang Di Pananjung
Lokasi : Kabupaten Ciamis

Gua Jepang terletak di kawasan cagar alam pananjung Pangandaran dengan koordinat 7°42,336’S 108°39,379’E, Perang Pasifik atau Perang Asia Timur raya terjadi pada tanggal 8 Desember 1941, diawali serangan mendadak Angkatan Udara Dai Nippon ( Jepang ) ke pelabuhan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour ( Hawai ).
Pada tanggal 18 Maret 1941 balatentara Dai Nippon menduduki seluruh pulau Jawa dan Madura dan pemerintah Hindia Belanda ( sekutu ) menyerah tanpa syarat kepada balatentara Dai Nippon.
Penyerahan daerah jajahan dilakukan di kalijati – Subang oleh Letnan Jenderal H. Ter poorten atas nama seluruh angkatan perang sekutu di Indonesia kepada Letnan Jenderal Imamora Hitoshi atas nama Kemaharajaan Jepang.
Gua Jepang di kawasan ini dibuat selama periode perang Dunia Kedua ( 1941 – 1945 ) dengan menggunakan kerja paksa selama kurang lebih 1 tahun.
Gua Jepang ini terbuat dari tembok beton yang tertimbun tanah sebagai benteng pertahanan dengan lubang – lubang pengintai ke arah laut untuk mengawasi pendaratan oleh pihak sekutu.

Gua Lalay ( Kelelawar )
Lokasi : Kabupaten Sukabumi

Siapa yang tidak kenal sebuah goa wisata di Sukabumi dengan jutaan kelelawar yang hidup di dalamnya? Lokasi Goa Lalay yang dekat dengan pantai wisata Palabuhanratu ini menyimpan berbagai keunikan tersendiri. Sebuah kunjungan ilmiah pernah dilakukan di lokasi gua ini, tepatnya 7 November 1937, oleh seorang ilmuwan Belanda. Sedangkan foto Goa Lalay pertama kali dipublikasikan tahun 1938 dalam sebuah jurnal de Tropische Natuur. Ketika itu, Palabuhanratu lebih dikenal dengan Wijnkoopsbaai dan dalam kunjungan ilmiah waktu itu lebih banyak mengupas tentang vegetasi di sekitar kawasan tersebut. Barisan ratusan ribu kelelawar yang meliuk-liuk, menyerupai “awan hidup” yang keluar dari Goa Lalai, merupakan atraksi yang sangat menarik di waktu sore hari untuk Anda saksikan dan hanya dapat dilihat sekitar pukul 17.00.
Lokasi:  Kecamatan Palabuhanratu
Gua Lanang Di Pananjung
Lokasi : Kabupaten CiamisGua Lanang terletak  didalam kawasan cagar alam pananjung Pangandaran dengan koordinat 7°42,442’S 108°39,508’E, dimana menurut legenda dulunya Gua Lanang merupakan keraton Kerajaan Pananjung dengan Rajanya bernama Prabu Anggalarang dan Permaesurinya Dewi Siti Samboja yang dikenal dengan nama Dewi Rengganis dengan dibantu oleh Patih Aria KIdang Pananjung.
Raden Anggalarang adalah putra Prabu Haur Kuning seorang raja kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggang kemudian mendirikan kerajaan Pananjung atas kemauannya sendiri, walaupun ayahnya telah memperingatkan dengan alasan tidak akan berjaya karena rawan gangguan dari para Bajo ( bajak laut ), Raden Anggalarang tetap pada pendiriannya karena daerah Pananjung merupakan tempat yang cocok bagi dirinya untuk mendirikan pusat pemerintahan.
Prabu Anggalarang adalah seorang laki – laki yang gagah dan sakti sehingga dijuluki ” Sang Lanang ” dan gua ini merupakan tempat tinggalnya maka disebut ” Gua Lanang “.
Gua Pawon

Terletak di 601 m dpl, Goa Pawon berada di puncak bukit Pawon yang merupakan daerah penambangan batu kapur, dan pada zaman dahulu merupakan  tepian Danau Bandung Purba.
Berdasarkan hasil survai A.C. De Yong dan G.H.R. Von Koenigswald tahun 1930-1935,  ditemukan alat-alat budaya masa lalu dari bahan obsidian, kalsidon, kwarsit, rijang dan andesit berupa anak panah, pisau, penyerut, gelang batu, batu asah dari Jaman Preneolitik, yang hidupnya mulai menetap di gua-gua atau ceruk atau sering kali dijumpai di kawasan perbukitan gamping.
Goa Pawon memiliki panjang 38 m dan lebar 16 m, sedang tinggi atap gua tidak dapat diketahui secara pasti karena saat ditemukan bagian atap gua sudah runtuh. Lantai gua hanya tersisa sebagian kecil di sisi barat karena sudah digali oleh masyarakat setempat untuk pengambilan fospat dengan kedalaman 4-5 m. Sedangkan lantai bagian tengah tertimbun oleh bongkahan runtuhan atap, sebagian besar sudah tererosi, sehingga membentuk lereng yang cukup terjal.
Hasil ekskavasi pada tahun 2003 dan 2004 berhasil ditemukan berbagai bentuk artefak, fitur maupun ekofak yang dapat mencirikan akan keberadaan situs tersebut dimasa lalu. Artefak yang terdiri dari pecahan keramik, gerabah, alat serpih, alat tulang berbentuk lancipan dan spatula, alat batu pukul (perkutor), sisa perhiasan yang terbuat dari gigi binatang dan gigi ikan, moluska dan temuan yang sangat signifikan dari keberadaan kehidupan  masa lalu berupa kerangka manusia. Selain itu juga ditemukan non artefaktual seperti  fragmen tulang dan moluska. Keberadaanya di Goa Pawon besar kemungkinan terjadi karena adanya kaitan rantai makanan yang pernah terjadi di masa lalu, dalam hal ini sebagai bagian dalam pemenuhan kebutuhan bahan makanan (konsumsi) dan mungkin juga untuk dipergunakan dalam pembuatan peralatan hidup sehari-hari.

Alamat: Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipata

Gua Siluman atau Buni ayu
Sebuah goa alami menunggu untuk Anda telusuri. Anda dapat menikmati keindahan alam dan hawa pengunungan yang masih sejuk, dan juga dapat melihat keluarnya air yang sangat jernih dari dalam bebatuan. Jangan lupa untuk masuk dan menikmati bagian dalam goa di mana pemandangan dan bebatuan yang ada tampak sangat indah. Tantanglah juga diri Anda dengan aktivitas caving merupakan kegiatan utama di goa ini lengkap dengan beberapa tingkat kesulitan.
Tambang Emas Pongkor

Objek yang dimiliki oleh Unit Bisnis Penambangan Emas (UBPE) Pongkor, BUMN PT Aneka Tambang Tbk (Antam) ini pertama kali dieksploitasi pada tahun 1974. Di sini Anda dapat melihat proses penambangan emas yang harus melalui serangkaian proses pengeboran, peledakan, pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan kembali. Untuk mendapatkan emas dari urat-urat ini, Antam membangun terowongan utama berdiameter 3,3 meter setinggi 3 meter. Apabila terus diikuti, terowongan ini akan tembus ke Gunung Pongkor yang jauhnya sekitar 4 kilometer. Pintu dari portal beton adalah satu-satunya tempat keluar masuk lokasi penambangan.
Dalam terowongan ini, terdapat 4 lubang besar sebagai ventilasi. Dengan ventilasi semacam ini, orang bisa tahan tinggal selama dua hari dalam terowongan tanpa harus kehabisan udara bersih. Apabila ingin memasuki terowongan emas, segala  peraturan penambangan harus dipatuhi, mulai dari kartu asuransi, memakai sepatu bot, berbaju wearpack, hingga berhelm yang bertengger senter di atasnya serta tidak lupa, masker pun harus dikenakan.

Lokasi: Sorongan, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: