Dataran Tinggi Dieng

Kompleks Candi-candi di Dataran Tinggi Dieng

Kabupaten Wonosobo – Jawa Tengah – Indonesia
Kompleks Candi-candi di Dataran Tinggi Dieng

Kompleks Candi-candi di Dataran Tinggi Dieng

A. Selayang Pandang

Kawasan kompleks candi dataran tinggi Dieng merupakan salah satu obyek wisata sejarah yang cukup terkenal di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dataran tinggi ini merupakan bekas letusan gunung berapi yang membentuk tiga kawah sekaligus, yaitu Kawah Sikidang, Kawah Sileri, dan Kawah Candradimuka. Di dataran tinggi inilah kompleks candi-candi itu berada.

Kumpulan beberapa bangunan candi ini dibangun pada abad ke-8 sampai dengan abad ke-13 M, dan merupakan peninggalan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu Siwa. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa benda peninggalan seperti Arca Dewa Siwa, Wisnu, Agastya, Ganesha, dan lain-lain. Candi yang dibangun selama 5 abad itu, kemudian oleh masyarakat setempat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok candi dengan nama-nama tokoh wayang purwa. Nama-nama kelompok candi itu ialah Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Candi Gatot Kaca, dan Candi Bima. Beberapa kelompok candi tersebut ada juga yang mempunyai bagian candi kecil dengan nama yang berbeda-beda pula.

B. Keistimewaan 

Berwisata ke obyek wisata sejarah kompleks candi-candi Dieng, setidaknya ada dua hal yang akan didapatkan oleh pelancong. Pertama, melihat indahnya alam pegunungan Dieng serta menghirup udaranya yang sejuk segar. Di lokasi obyek wisata ini udaranya cukup dingin karena berada pada ketinggian 6.000 kaki atau 2.093 meter di atas permukaan laut (dpl), sehingga wisatawan tidak perlu khawatir dengan panasnya sinar matahari di lokasi wisata ini. Tak perlu pula membawa topi, payung atau berbagai jenis penutup kepala lainnya. Keringat pun tak akan banyak bercucuran walau berjalan panjang di bawah terik matahari. Keistimewaan alam itulah yang menjadi daya tarik tersendiri kawasan obyek wisata ini. Apalagi ketika pelancong tiba di lokasi pada pagi hari, pemandangan alam pertama yang membuat kagum pelancong adalah saat matahari sedang terbit dari arah timur yang sering disebut dengan “Golden Sunrise”. Sinar matahari ini muncul dari sela-sela perbukitan dan menampakkan sinarnya bagai kilauan emas.

Setelah cukup puas dengan panorama alam ini, pelancong dapat menyusuri keindahan gaya arsitektur candi-candi yang berada di pegunungan Dieng. Pandangan pertama yang akan dilihat wisatawan ketika menginjakkan kaki di pegunungan Dieng ialah kelompok Candi Dwarawati yang mempunyai satu bagian candi bernama Candi Parikesit. Kelompok candi yang berada di Bukit Perahu ini berukuran panjang 5 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 6 meter. Pada masing-masing dinding luar dan dalam candi terdapat relung-relung tempat arca. Sedangkan pada atapnya terdapat menara-menara kecil yang berhiaskan simbar-simbar lukisan kepala. Bentuk atap dan hiasan-hiasannya ini merupakan pengaruh gaya arsitektur dari India Selatan.

Selanjutnya, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menyusuri kelompok Candi Arjuna. Kelompok candi ini terbagi ke dalam dua barisan bangunan candi, yaitu deretan timur terdapat Candi Arjuna-Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra. Sedangkan pada deretan candi di sebelah barat terdapat Candi Semar dan Candi Arjuna itu sendiri. Kelompok candi ini bangunannya berbentuk bujur sangkar dan berhiaskan relung-relung dan hiasan kala-makara di bagian dindingnya. Hiasan candi ini paling banyak terdapat pada puncaknya. Tak jauh dari lokasi kelompok Candi Arjuna ini, wisatawan juga dapat melihat bekas beberapa candi, yaitu Candi Setyaki, Petruk, Antareja, Nala Gareng, Nakula, dan Sadewa. Sayangnya, semua candi itu hanya tinggal fondasi dan sedikit puing-puingnya saja, sehingga wisatawan tidak dapat melihat gaya arsitekturnya.

Candi Arjuna memiliki keistimewaan karena terdapat bak batu yang selalu terisi tetesan air embun yang berasal dari atap candi. Uniknya, sekumpulan air embun tersebut tidak bisa kering walaupun terkena panas matahari. Karena tak bisa kering, kemudian oleh masyarakat disakralkan dan diberi nama air kehidupan “Parwito Sari” serta dipercaya banyak mengandung berkah bagi yang menggunakannya.

Cukup puas menikmati keindahan arsitektur kelompok Candi Arjuna, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat arsitektur kelompok Candi Gatot Kaca yang berukuran 4,5 x 4,5 meter dan berbentuk bujur sangkar. Untuk menuju lokasi Candi ini, wisatawan harus menaiki Bukit Panggonan yang cukup tinggi. Namun, jangan khawatir dengan rasa lelah yang akan muncul karena naik ke bukit ini, sebab rasa lelah itu akan terobati setelah melihat indahnya Telaga Bale Kambang yang berada di sebelah timur candi tersebut.

Candi lain yang tak kalah menariknya dan berada pada posisi paling selatan ialah Candi Bima. Untuk menuju candi ini pelancong akan menempuh  perjalanan sejauh 1 km dari Candi Gatot Kaca. Candi yang memiliki ketinggian sekitar 8 meter ini, dibangun di atas fondasi yang berbentuk bujur sangkar berukuran 6 x 6 meter. Candi ini juga mempunyai hiasan pada bagian puncaknya, sebagaimana pada kelompok Candi Arjuna. Candi yang berbentuk Sikhara (mangkuk yang ditangkupkan) ini, merupakan pengaruh gaya arsitektur dari India Utara. Sedangkan pengaruh gaya arsitektur India Selatan, terdapat pada hiasan-hiasan menara dan relung-relung yang berbentuk tapal kuda.

Keistimewaan lainnya, keberadaan Candi Dieng ini terletak di pegunungan (tanah) Dieng yang dianggap suci, karena Dieng merupakan tempat bersemayamnya arwah para dewa-dewi. Hal ini terbukti dari asal kata dieng (bahasa Jawa) yaitu kata dhi dan hyang. Dhi artinya gunung, sedangkan hyang diambil dari kata para hyang, yang artinya para dewa-dewi. Dari asal kata itulah Dieng kemudian diartikan sebagai gunung tempat para dewa-dewi yang kemudian oleh masyarakat setempat dianggap tanah suci.

Selain sebagai obyek wisata sejarah, Candi Dieng menarik untuk dikunjungi karena dikelilingi oleh beberapa gugusan gunung, yaitu Sumbing, Sindoro, Perahu, Rogojembangan, dan Bimo. Berbagai gugusan gunung tersebut turut menambah indahnya pemandangan alam di area obyek wisata ini. Dari tempat ini, wisatawan juga dapat melihat suasana Kota Banjarnegara dan Kota Wonosobo dari ketinggian.

Jika wisatawan masih ingin melanjutkan petualangan wisatanya di dataran tinggi Dieng ini, terdapat obyek wisata lain yang tak kalah menariknya, yaitu Kawah Sikidang, Telaga Warna, Gua Semar, Tuk Bimalukar, dan lain-lain.

C. Lokasi

Kompleks Candi-candi Dieng terletak di Pegunungan Dieng, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

D. Akses

Untuk menuju lokasi obyek wisata Kompleks Candi-candi Dieng, pelancong dapat memulai perjalanan dari Terminal Wonosobo. Dari terminal ini, naik bus jurusan Wonosobo—Dieng, dengan tarif sekitar Rp 7.000 per orang untuk sampai ke lokasi (November 2008). Perjalanan dari Wonosobo ke pegunungan Dieng membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan.

E. Harga Tiket

Memasuki obyek wisata kompleks Candi-candi Dieng, pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp 6.000 per orang (November 2008).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Fasilitas yang terdapat di obyek wisata ini ialah mushala, tempat bersantai, balai informasi wisata, dan lain-lain. Terdapat juga warung makan, kios buah-buahan, mainan anak-anak, dan berbagai macam suvenir. Sayangnya, di sekitar area obyek wisata ini belum terdapat fasilitas hotel. Namun, jika wisatawan ingin bermalam, terdapat penginapan-penginapan yang dikelola penduduk dengan fasilitas kamar mandi di dalam dan mandi air hangat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: